jedi

Mei 18, 2007

Nasionalisme dari gedung bioskop

Diarsipkan di bawah: ulasan — xatryajedi @ 12:10 pm

nagabonar-1.jpg

Seorang blogger, Erlina, menulis begini, “Ada yang bilang bahwa kalau kita mau buat film Indonesia yang bermutu maka belajarlah dari Jakarta Undercover.

Tapi menurut saya seharusnya dari Nagabonar 2.

Kita bangsa merdeka, maka bertindaklah seperti bangsa merdeka.”

Akhirnya ada juga film indonesia yang ketika kita keluar dari gedung bioskop, kita keluar dengan perasaan puas! Ngga usah ada film kayak flag of our fathers atau saving private ryan untuk membangun patriotrisme orang indonesia. Nagabonar 2 sudah cukup untuk itu.

Kata-kata dan emosional yang diberikan memang luar biasa. Orang bisa ketawa terus nangis terus ketawa lagi. Lelucon yg diberikan bukan humor slapstik yg mengharuskan si pemain terlihat konyol.

Film ini merupakan sekuel dari Nagabonar produksi 1986, yang saat itu sukses meraih prestasi kualitas (Film Terbaik FFI 1987) sekaligus mendulang prestasi dalam pengumpulan jumlah penonton.

Diproduksi kerjasama PT Demi Gisela Citra Sinema dengan PT Bumi Prasidi Bi-Epsi, film “Nagabonar jadi 2” (NBj2) didedikasikan kepada Almarhum Asrul Sani, penggagas tokoh rekaan Nagabonar.

sinopsis

Setelah kemerdekaan, Nagabonar (Deddy Mizwar) seorang diri berhasil membesarkan anaknya, Bonaga (Tora Sudiro) – buah hati hasil pernikahannya dengan Kirana (almarhumah), yang kini sukses jadi pengusaha di Jakarta.

Sebagai anak, Bonaga memiliki persamaan watak dan karakter dengan Bapaknya: jujur, responsibel, dan sama-sama tak mampu menyatakan cinta pada wanita.

Dengan bakat kepemimpinannya, Bonaga – bersama Pomo, Ronny, dan Jaki, mengelola bisnis yang strategis. Bonaga bersama tiga sahabatnya merupakan cermin anak muda modern: metroseksual, pintar, cerdas, dan dinamis.

Konflik utama film ini adalah saat Bonaga dan sahabat-sahabatnya ingin menjual kebun kelapa sawit milik Bapaknya di kampung halamannya, Sumatra Utara, kepada investor dari Jepang untuk dijadikan sebuah resort. Tentu saja Nagabonar sangat marah sebab di kebun itu terdapat kuburan tiga orang yang selalu hidup di hati Nagabonar: Kirana, istrinya; Mak-nya, dan Si Bujang sahabatnya. Jargon khas mereka, “Apa kata dunia?”

Monita (Wulan Guritno), konsultan bisnis Bonaga, yang cantik, mandiri, profesional, dan mencintai Bonaga, berusaha menjembatani konflik antara Bapak dengan anak itu.

Pertemuannya dengan Umar (Lukman Sardi), anak seorang pejuang yang jadi sopir bajaj dan menjalani kehidupan sederhana, menjadi titik-balik sikap Nagabonar dalam melihat dunia dan kehidupan.

Dikemas dalam drama komedi, film Nagabonar 2 sarat dengan pesan tentang cinta orangtua dan anak, cinta dalam persahabatan, cinta tanah air, cinta laki-laki dan perempuan, termasuk cinta dalam melihat perbedaan.

Salah-satu adegan mengesankan adalah ketika Nagabonar membuat gol dalam permainan bola dengan kanak-kanak di kampung sebelah. Wuiih, jogetnya, penghayatannya, luarbiasa!

Dan adegan yang sangat menyentuh adalah ketika Nagabonar senior ngotot menurunkan tangan patung Jenderal Sudirman yang sedang memberi hormat. Dia bilang, “Jenderal, apa yang kau hormati? Turunkan tanganmu jenderal. Apa kau terus2an hormat pada mereka karena mereka memakai kendaraan roda empat? Tidak semua orang itu pantas kau hormati jenderal!!”

God, what’s a strong quoute.

Meski sarat pesan moral, tapi sutradaranya benar-benar mampu merangkai pesan2 moralnya dengan baik sehingga nggak nyasar kayak sinetron2 keagamaan kita yang relatif mirip film bokep: Cerita hanya seperti penyambung pesan moral yang satu ke pesan moral berikutnya, sehingga ngga jelas alur ceritanya.

Nagabonar 2 sangat menghibur, dengan kisah kasih, cinta dan sayang, tanpa eksploitasi cium2an yang seolah merupakan bumbu wajib perfileman kita. Satu hal penting lainnya : ada nilai yang bisa kita bawa pulang, yang membuat kita tercenung ketika meninggalkan bioskop.

Film ini berhasil memukul perasaan penontonnya, menyadarkan kita tentang patriotisme, nasionalisme, serta kasih-sayang yang sesungguhnya. Dan dia bisa bikin penonton ketawa dan terpukul, ngakak dan ingin menangis, nyaris dalam waktu yang sama.

Namun untuk melengkapi khazanah kita mengenai dokumen ini, ada baiknya kita mengetahui juga versi pertamanya.

Nagabonar (1) adalah Film terbaik 1987, yang memperoleh penghargaan untuk Aktor Terbaik (Deddy Mizwar), Aktris Pendukung Terbaik (Roldiah Matulessy), Cerita Asli Terbaik dan Skenario Terbaik (Asrul Sani), Penata Suara Terbaik (Hadi Artomo), dan Penata Musik Terbaik (Franki Raden). Itulah antara lain sederet piala Citra di tahun 1987 yang diborong oleh film yang satu ini di perhelatan Festival Film Indonesia.

Kayaknya sih nggak bakal ada yang berani protes dan meragukan pilihan juri yang begitu royal menyerahkan sebagian besar piala Citra FFI 1987 untuk film yang disutradarai MT. Risyaf ini. Karena film yang satu ini, dilihat dari banyak sisi, memang sangat layak untuk mendapatkan penghargaan. Apalagi film ini juga sangat orisinal!

Cerita Nagabonar (1) itu kurang-lebih begini.

Dengan setting tanah Batak di masa awal kemerdekaan, dikisahkanlah kehidupan Nagabonar (Deddy Mizwar), si tukang copet ulung. Dia punya sahabat setia yang namanya Bujang (Afrizal Anoda). Saking setianya, setiap kali Nagabonar tertangkap dan masuk penjara, si Bujang ikutan masuk penjara meskipun nggak ikut nyopet. Katanya sih biar bisa makan gratis teratur.

Tapi begitu mendengar dari Bang Pohan (Piet Pagau) bahwa Indonesia sudah merdeka, lalu Belanda berusaha merebut negeri ini kembali, Naga dan teman2nya ikut angkat senjata untuk melawan Belanda. Dan Nagabonar meskipun gayanya slenge’an dan tukang nyopet gitu, rupanya punya kharisma sebagai seorang pemimpin. Naga bahkan akhirnya memimpin pasukan sendiri dan melakukan perang gerilya melawan Belanda.

Hingga satu saat Nagabonar dan pasukannya mendapat perintah mundur dari Bang Pohan. Tidak lagi menyerang Belanda karena perjanjian gencatan senjata telah disepakati. Maka mereka pun mundur dan menetap di satu tempat untuk beberapa saat. Dalam rombongan mereka termasuk juga Emaknya Nagabonar (Roldiah Matulessy) yang tetap menganggap Naga bekerja sebagai pencopet, lalu ada juga seorang ‘tawanan’ Kirana (Nurul Arifin) putri dokter Zulmi (Kaharuddin Syah) yang dituduh antek Belanda.

Belanda mengajak Nagabonar merundingkan garis demarkasi. Sebelum perundingan, demi harga diri, Nagabonar dan teman2nya memutuskan untuk memberikan pangkat kemiliteran kepada diri mereka masing2. Atas usulan Lukman (Wawan Wanisar) yang paling terpelajar, Nagabonar menjadi jendral, Murad (Mustafa) dapat kolonel, Jono letnan kolonel, Lukman sendiri menjadi mayor. Lukman yang rada sentimen sama Bujang hanya memberikan pangkat kopral untuk Bujang. Bujang pun protes keras. Tapi Nagabonar tak mampu memprotes keputusan Lukman karena tahu ia tak akan bisa mendebat Lukman.

Dalam perundingan dengan Belanda, Nagabonar tidak mau menunjukkan lokasi pasukannya karena ia tahu akal licik Belanda. Yang terjadi malah Naga sempat2nya mencopet jam tangan si mayor Belanda yang kemudian ia hadiahkan untuk Bujang. Agar Bujang terhibur : meskipun pangkatnya cuma kopral tapi jam tangannya Mayor.

Nagabonar diam-diam naksir Kirana. Dengan bantuan Bujang ia berusaha mendekati Kirana. Teman seprofesi Naga, profesi pencopet maksudnya, yang juga memimpin satu pasukan di tempat lain, ternyata juga ingin memiliki Kirana. Mariam namanya. Mariam ini cowok tentunya, kayak mariam tomong gitu. Mariam dan pasukannya datang ke tempat Naga, bersenjata lengkap, untuk meminta Kirana. Naga mengajaknya bertanding catur untuk menentukan siapa yang berhak atas Kirana.

Dengan sedikit curang, Naga menang, Mariam nggak terima. Tembak-menembak antar teman pun terjadi. Mariam tertembak kakinya dan menyerah, merelakan Kirana untuk Nagabonar.

Naga terserempet peluru di lengannya. Kirana yang anak dokter merawat luka Naga. Dan mulailah benih2 kasih bertebaran.

Sementara itu si Bujang merasa sangat kesal sama Lukman, karena dia dianggap bawahan yang disuruh2 melulu oleh Lukman. Bujang bertekad untuk membuktikan siapa yang lebih hebat. Hingga satu pagi Naga kehilangan satu set seragamnya lengkap dengan tanda pangkat, tongkat, dan topi bulunya. Murad melaporkan bahwa Bujang pada waktu subuh telah nekat membawa pasukan untuk menyerang Belanda.

Dan siang harinya… pasukan itu kembali dengan membawa si Bujang yang telah terkulai tak bernyawa di atas kuda. Bujang mengenakan seragam dan semua atribut milik Nagabonar. Nagabonar tak mampu berkata apa-apa. Dia lari pulang, menangis dan meneriakkan nama Bujang berulang-ulang. Saat penguburan Bujang, Naga mengenakan seragamnya yang berlumuran darah si Bujang.

Dalam kesedihan kehilangan Bujang teman baiknya, Naga mengunjungi Kirana lagi. Naga curhat ke Kirana kalau ia merasa kesepian dan sendirian.

Kirana menghiburnya dengan mengatakan kalau Naga tidak sendirian. “Masih ada aku…”, kata Kirana… huhuuuy!! Besoknya Naga meminta emaknya untuk melamar Kirana. Tapi emaknya malah menasehati Kirana agar tidak percaya sama kata2 Naga… hihihi.

Belanda akhirnya melanggar sendiri perjanjian gencatan senjata. Naga pun segera menyiapkan pasukan untuk kembali menyerang Belanda. Kirana bilang kalau dia ingin ikut bertempur di garis depan bersama Naga. Nagabonarpun menyetujui, dan memberi Kirana pangkat Permaisuri!

BF?

Melihat endingnya, cerita utama memang bukan soal perjuangan melawan penjajah. Scene perangnya sendiri juga terkesan seadanya, nggak terlalu hebat, dan jauh dari kolosal. Cerita utama sebenernya adalah kisah cinta Nagabonar dan Kirana, dengan latar belakang masa perjuangan.

Jadi film ini bukanlah BF… alias Bilem Ferjuangan (guyonan garing ala Sersan Prambors). Mungkin lebih tepat kalau film ini masuk genre Komedi, karena memang dialog dan adegannya dibikin konyol. Didukung juga dengan scoring musik yang bernuansa komikal dengan mengambil nada lagu “Mariam Tomong”.

Nggak perlu mikir terlalu njlimet untuk mengikuti ceritanya. Cocok dengan perintah Naga pada si Lukman yang juga jadi kalimat yang lumayan memorable dari film ini,

“Kau kuperintahkan

untuk berhenti berpikir

Kalau kau berpikir aku jadi ikut berpikir

Susah aku

Jadi berhentilah kau berpikir!”

Film ini juga bukanlah BF dalam arti sebenarnya meskipun ada beberapa adegan ketika para figurannya polos, berlarian telanjang tanpa sehelai benangpun… anak-anak tapinya.

Deddy Mizwar total banget memerankan Nagabonar. Logat bataknya dapet banget, karakter Nagabonar yang rada bengal juga berhasil diinterpretasikan dengan baik. Dia juga rela tampil berwajah gembil jelek dengan pipi bawah yang selalu ngejendul sebelah, entah karena dia ikut2an nyirih kayak emaknya atau lidahnya yang kepanjangan. Ya siapa sih yang meragukan kemampuan akting Deddy Mizwar, baik itu dalam film drama serius maupun komedi.

Emak Nagabonar yang diperankan Roldiah Matulessy diganjar piala Citra untuk aktris pendukung terbaik, emang masuk banget sih jadi emak yang cerewet, meskipun jarang nongol.

Film ini jelas salah satu Masterpiece tahun 80-an. Kabarnya inilah film Indonesia pertama yang menggunakan direct sound: Suara aktornya langsung direkam bersamaan dengan pengambilan gambar. Kabarnya lagi, ini adalah film Indonesia pertama yang masuk seleksi Film Berbahasa Asing di ajang Academy Award alias Oscar, meskipun tidak bisa berbicara lebih banyak lagi.

Bukan cuma mendapat banyak penghargaan atas kualitasnya, tapi film ini juga sukses mendatangkan penonton saat diputar di bioskop di seluruh nusantara. Bahkan sanggup bertahan hingga berbulan-bulan. Mungkin karena ceritanya ringan dan mampu menghibur semua lapisan masyarakat.

 

Belum Ada Tanggapan »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.

Blog pada WordPress.com.