di-posting oleh : Iftitah Axa Qauniah
Muhammad, sang Avatar*
sebuah tinjauan tentang Sunnah
pengantar
“Aku mewariskan dua hal, yang bila keduanya kalian ikuti maka kedua hal itu akan menyelamatkan kalian di dunia dan akhirat. Kedua hal itu adalah Al Quran dan Sunnah,” kata Baginda Rasulullah menjelang kemangkatan beliau.
Entah mengapa, istilah Sunnah kini diartikan sebagai sesuatu yang bila dikerjakan mendapat pahala, bila tidak dikerjakan ya tidak apa-apa.
Lalu bagaimana dengan sholat, misalnya? Al Quran tidak merinci bagaimana tata-cara sholat, ruku’, i’tidal, sujud, dan sebagainya. Sunnah-lah yang menjelaskan rincian itu.
Pertanyaannya, apakah melakukan tatacara sholat sebagaimana yang diajarkan Nabi SAW itu hukumnya “bila tidak dilakukan ya tidak apa-apa”?
Sang Nabi yang kemangkatannya tercatat pada tahun 632 M itu sesungguhnyalah telah mewariskan khazanah ilmu yang bila disalin ke atas kertas maka telaahnya takkan muat dalam selemari penuh buku.
Belum terhitung kitab-kitab sejenis dari Duratun-Nasiin, Bulughul Maram, Nahjul Balaghah, berbagai sirah versi Munawar Khalil, Haekal, Annemarie Schimmel, dan lain-lain. Bahkan keempat kitab tebal hadis sahih Bukhari dan empat kitab pula dari hadis sahih Muslim yang konon kesahihannya paling terjamin itu ternyata hanya memuat sangat sedikit dari seluruh hadis yang ada.
Repotnya, baik Imam Bukhari maupun Imam Muslim sendiri mengakui bahwa secara kuantitatif, hadis yang mereka riwayatkan tak lebih dari seperlima dari seluruh hadis yang seharusnya ada. Kemana sisanya, yang empat perlima?
Sebagian dari yang empat perlima tidak dimuat karena Bukhari dan Muslim sendiri menyangsikan kesahihannya. Dan hadis sahih Bukhari-Muslim sendiri sesungguhnyalah masih menyisakan sejumlah pertanyaan. Misalnya hadis sahih Bukhori-Muslim yang mengatakan bahwa mata air sungai Nil terletak di surga. Padahal peta dunia menunjukkan bahwa mata air sungai Nil terletak di benua Afrika. Wallahu’alam.
Imam paling terkemuka di negeri Iran pasca jatuhnya rezim Syah Reza Pahlevi, Imam Khomayni, membahas sepuluh hadis dengan cara yang sangat menarik, indah, mendalam, dan tentu saja sangat bekualitas, dalam sebuah kitab setebal ratusan lembar. Imam Khomayni lalu melanjutkan dengan tiga puluh hadis lain, dan menamai bukunya Empat Puluh Hadis Pilihan.
Sayang, tiga puluh hadis yang ditulis belakangan begitu kental dengan aroma Syiah. Sehingga kaum Sunni emoh membacanya. Padahal sepuluh hadis pertama yang netral itu benar-benar berhasil menunjukkan keutamaan akhlak mulia sang Rasulullah SAW.
Konon Imam Ali, Radhiyallahu Anhu, yang di masa Rasulullah SAW digelari sebagai gerbang ilmu, merupakan satu dari sedikit orang yang menyimpan seluruh khazanah hadis Nabi SAW. Nabi sendiri yang menganugerahi Ali dengan gelar itu. Dan konon Sayidina Ali pula yang pernah mengutarakan bahwa sekiranya ia menyampaikan seluruh hadis Nabi SAW maka orang akan menuduhnya sesat.
Kontroversi mengenai apakah sebuah hadis sahih atau tidak, senantiasa bisa memicu perdebatan, dan ini jelas berakibat langsung pada paparan sejarah keberadaan Sang Nabi SAW.
Salah satu topik yang debatable adalah kisah tentang dua malaikat yang membelah dada Muhammad semasa beliau masih kanak-kanak. Sekelompok orang meyakini kisah itu secara apa adanya, sementara sekelompok lain meyakini bahwa kisah itu adalah sebuah metafora.
Namun bagaimanapun juga, masih cukup banyak hadis maupun catatan riwayat Sang Nabi yang universal dan sesuai dengan realitas sejarah maupun perkembangan ilmu pengetahuan, bahkan yang paling modern sekalipun.
selaras dengan alam
Pelajaran pertama dari seluruh perjalanan Sang Nabi SAW adalah tentang kejujuran. Nabi SAW adalah orang yang sama-sekali tidak pernah berbohong seumur hidupnya. Maka bila kita ingin belajar dari Beliau SAW, pelajaran pertama yang seharusnya kita teladani adalah tentang berjuang melakukan kejujuran.
Ini pelajaran pertama dan kita belum melakukannya.
Muhammad Sang Habibillah telah menjadi insan terpercaya bahkan sebelum beliau dijadikan-Nya sebagai Rasul-Nya. Seakan secara tersirat Allah mengajarkan kepada kita bahwa seorang calon pemimpin ummat, sebelum menjadi pemimpin haruslah terlebih dahulu menjadi manusia jujur. Karena seseorang hanya bisa memperoleh keberhasilan sejati melalui kejujuran.
Namun ditinjau dari sisi lain, hanya manusialah satu-satunya mahluk di dalam alam semesta ini yang mampu berbuat tidak jujur. Alam tidak pernah berbohong. Matahari tidak pernah absen untuk terbit tiap pagi dari sebelah timur. Api tidak pernah pura-pura dingin, dan es tidak pernah panas.
Elektron tak pernah bolos dari tugasnya mengitari inti atom. Tubuh manusia pun tunduk pada hukum alam. Pada periode tertentu tubuh butuh makan, tidur, dan sebagainya. Maka teknologi dari yang paling sederhana hingga nanoteknologi mutakhir abad ini berkembang atas dasar hukum alam yang selalu bisa dipercaya. Alam selalu bisa diandalkan.
Beda dengan jiwa manusia. Orang bisa pura-pura tersenyum meski sepenuh hatinya menyimpan sebongkah kebencian. Manusia bisa berjanji dan setiap saat bisa mengingkari. Manusia tak selalu bisa diandalkan.
Frasa “terpercaya” dalam bahasa Arab adalah al amin, dan dalam serapan bahasa Indonesia adalah kredibel (credible). Semakin tinggi kredibilitas seseorang, semakin besar pula peluangnya untuk memenangkan berbagai pertarungan hidup. Begitu pula sebaliknya.
Maka Muhammad Sang Kekasih Allah sesungguhnya telah meneladankan kepada kita keutamaan untuk meniti jalan kejujuran, selaras dengan jujurnya alam.
Kalau Rasulullah SAW berjanji, beliau pasti menepati, setepat janji matahari untuk terbit esok pagi. Kalau bicara tak pernah berdusta, dan tak pernah mengkhianati kepercayaan yang diberikan kepadanya. Rasulullah SAW selalu bisa diandalkan.
definisi
“Aku mewariskan dua hal, yang bila keduanya kalian ikuti maka kedua hal itu akan menyelamatkan kalian di dunia dan akhirat. Kedua hal itu adalah Al Quran dan Sunnah,” kata Baginda Rasulullah menjelang kemangkatan beliau.
Entah mengapa, istilah Sunnah kini diartikan sebagai sesuatu yang bila dikerjakan mendapat pahala, bila tidak dikerjakan ya tidak apa-apa.
Lalu bagaimana dengan sholat, misalnya? Al Quran tidak merinci bagaimana tata-cara sholat, ruku’, i’tidal, sujud, dan sebagainya. Sunnah-lah yang menjelaskan rincian itu.
Pertanyaannya, apakah melakukan tatacara sholat sebagaimana yang diajarkan Nabi SAW itu hukumnya “bila tidak dilakukan ya tidak apa-apa”?
Tak mungkin, bukan? Ketetapan Hukum untuk melakukan sholat persis sebagaimana Nabi SAW melakukannya adalah fardhu’ain. Semua ulama sepakat akan hal itu.
Satu contoh lagi. Nabi SAW mengatakan bahwa orang yang tidur dalam keadaan kenyang sedangkan tetangganya kelaparan maka si orang yang kenyang itu tidak nggak bakalan masuk surga. Berarti kalau kita kenyang dan akan tidur maka kita harus periksa jangan sampai ada tetangga yang lapar. Ini wajib atau sunnah?
Jawabannya jelas : Sunnah adalah tata-cara atau petunjuk teknis bagaimana melakukan setiap kewajiban. Seperti kata Nabi SAW, Quran dan Sunnah tidak boleh ditinggalkan. Jadi, anggapan kuno bahwa sunnah “bila tidak dilakukan ya tidak apa-apa” adalah seratus persen ngaco.
Definisi sunnah yang relatif lebih tepat, menurut arsitek kodifikasi Hukum Negara Islam Pakistan, Fazlurrahman; bahwa Sunnah adalah seluruh ucapan dan perbuatan Nabi Muhammad ditambah dengan gagasan para Sahabat yang disetujui Rasulullah SAW. Dengan kata lain, seluruh rangkaian kehidupan Nabi SAW sejak beliau diangkat menjadi Nabi hingga kewafatannya, adalah sepenuhnya Sunnah.
Karena Nabi SAW adalah manusia yang Maksum. Yang seluruh peri-kehidupannya adalah implementasi Al Quran. Atau dengan kata lain bahwa Al Quran adalah konsep, sedangkan Sunnah adalah praktek. Quran dan Sunnah adalah dua sisi dari koin yang itu-itu juga.
ringkasan Sunnah
Muhammad bin Abdullah diangkat menjadi rasulullah pada usia empat puluh tahun, dan selama tiga tahun pertama dalam kerasulannya beliau berdakwah secara diam-diam di kota Makkah.
Setelah masa tiga tahun berlalu, turunlah ayat yang berbunyi: “ya ayyuhal muddatsir, kum fa andzir…”. Rasulullah SAW mulai melakukan dakwah dengan terang-terangan. Rasulullah SAW mendeklarasikan Syahadah. La illaha illallah, Muhammadurrasulullah.
Dan semenjak itu pula para pembesar Quraisy mendeklarasikan penentangan terhadap Rasulullah SAW, menghalang-halangi dan merintangi setiap aktivitas dakwahnya. Selama belasan tahun, Rasulullah SAW tegar dan tidak mundur selangkah pun dari missinya, menghadapi segala hambatan dan rintangan yang dilakukan oleh para pembesar Quraisy.
Pertanyaannya, mengapa masyarakat Mekkah menolak dakwah yang mulia itu?
Pertama karena Islam yang hakiki yang disampaikan para Nabi dan Rasulullah sesungguhnya senantiasa merupakah sistem kehidupan yang total, menyeluruh, dan sekaligus merupakan antitesis terhadap sistem kehidupan yang dibuat dan dilakukan masyarakat manusia.
Kedua karena, sebagai konsekuensinya, maka memeluk Islam berarti membongkar dan mencampakkan seluruh tata-nilai konvensional. Persaudaraan, persahabatan, dan kasih-sayang tidak lagi didasarkan pada semata-mata pertalian darah atau nasionalisme. Melainkan didasarkan pada Illah yang sejati, Allah.
Islam tak mungkin menjadi subsistem. Beberapa manusia mulia Dari Socrates, Aristoteles, Marx, Weber, Kant, hingga Descartes, menciptakan tatanan hidup mencakup ekonomi, sosial, politik, dan hukum, dengan segala kekurangan dan kelemahan masing-masing. Dan Di jaman Muhamad SAW, semua rekaan manusia dibongkar dan diganti dengan tatanan Islami yang orientasinya hanya satu: Allah. Tolok ukur kebenaran bukan lagi ditentukan oleh opini publik melainkan oleh Al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.
Jelas saja para pembesar menolak sistem baru itu. Hanya pembesar yang punya hati nurani dan kejujuran saja yang bisa menerimanya, semisal Abu Bakar, Usman bin Affan, atau Abdurrahman bin Auf. Selebihnya, orang yang bisa menerima Islam hanyalah kaum dhuafa yang selama ini terpinggirkan namun kini tercerahkan.
Sembilan tahun Muhammad SAW berdakwah di Makkah sejak beliau dinubuwahkan menjadi pengemban missi risalah hingga hijrah ke Madinah. Namun tak banyak catatan sejarah selama ribuan hari atau jutaan jam yang beliau habiskan di lorong-lorong Kota Mekkah.
Apa saja yang beliau lakukan dan bincangkan dengan segelintir Sahabat di Pondok Arqam, setiap hari selama sembilan tahun? Bagaimana beliau mengelola dan membina rumah-tangga dan anak-isteri para Sahabat, agar semua yang ada tetap istiqamah di jalan Tawhid?
Adalah misterius bahwa tak banyak catatan tentang pembinaan As-Sabiqunal Awwalun itu, yang nota-bene adalah generasi terbaik sepanjang sejarah dunia.
Yang kita tahu cuma hasilnya. Bahwa Ali r.a menjadi “gerbang ilmu”. Bahwa Abu Bakar menjadi “As Siddiq”. Bahwa Bilal, suara terompahnya pun telah terdengar di sorga. Bahwa Umar menjadi “Al Faruq”.
Yang jelas bahwa segenap ummat Islam yang sangat minoritas saat itu saban hari berkumpul di Darul Arqam, dengan Rasulullah SAW di tengah-tengah mereka. Kalau pake istilah jaman sekarang, kalangan Darul Arqam itu eksklusif.
Kata orang jahiliyah, “Islam jangan eksklusif dong, tapi harus inklusif. Eksklusif itu jadul banget gitu loh. Makanya inklusif aja. Kalo inklusif itu gaul, funky, jangan usil sama orang yang nggak solat dan rutin ke dugem. Soal ibadah ‘kan urusan masing-masing.”
Tapi gerombolan Darul Arqam tetap inklusif. Bahasa Qurannya, furqan. Artinya, ada tembok virtual yang memisahkan dan membedakan mereka dari masyarakat Mekkah saat itu.
Ummat Islam Diboikot
Pada tahun keenam setelah kerasulan Muhammad SAW, ummat Islam yang cuma segelintir itu diboikot. Masyarakat Mekkah dilarang melakukan aktivitas sosial apapun, temasuk jual-beli, dengan warga muslim. Akibatnya kaum muslim mengalami berbagai cobaan dan ujian berupa wabah disentri dan sebagainya.
Pada saat itulah Rasululullah SAW mengatakan bahwa kanak-kanak dan bayi yang wafat maka ibunda mereka berhak atas pahala syuhada. Dan warga Muslim yang wafat dalam pemboikotan itu berstatus syahid.
Setelah berlangsung tiga tahun, pemboikotan oleh rezim Mekkah yang dimaksudkan untuk menghabisi kaum muslim itu ternyata gagal. Justru kaum muslim bagai melalui kawah candradimuka: Pemboikotan itu bukannya melemahkan, malah menjadikan mental mereka sekuat baja.
Hijrah
Setelah hampir sepuluh tahun kaum muslimin diintimidasi, dikejar-kejar, disiksa, dan dibunuh, Allah memerintahkan ummat Islam generasi As-Sabiqunal Awwalun itu untuk melakukan Hijrah.
Gerakan hijrah adalam monumen kebangkitan Ummat Islam.
Beberapa telaah mengatakan bahwa hijrah dilakukan karena Ummat Islam tertekan di Mekkah. Pendapat tersebut mungkin ada benarnya, tetapi tidak sepenuhnya benar. Karena pendapat tersebut mengesankan bahwa Ummat Islam adalah orang-orang pengecut yang lari dari persoalan.
Yang jelas, Ummat Islam melakukan Hijrah karena Allah memerintahkan mereka melalui Al Quran, melalui wahyu, untuk melakukan hijrah. Nabi SAW sendiri baru berangkat hijrah setelah ada komando resmi berupa ayat Al Quran yang menginstruksikan Nabi Muhammad SAW agar segera mempersiapkan diri dan berangkat hijrah. Nabi SAW tidak berangkat sebelum ada perintah berangkat.
Jadi, hijrah adalah perintah Allah Sang Pengasih kepada Ummat Islam. Hijrah minaz-zulumat ilan-Nur. Hijrah dari kekacau-balauan kepada Cahaya Terang-Benderang. Hijrah dari Negeri Mekkah yang korup dan penuh skandal, ke negeri baru dengan tatanan baru yang sepenuhnya Islami.
Hijrah dari negeri yang polisi serta hakimnya bisa dibeli, ke negeri yang sungguh-sungguh menegakkan keadilan dan kesejahteraan yang merata. Hijrah dari negeri yang menteri dan gubernurnya mengizinkan penggusuran rakyat miskin agar tanah mereka bisa dibangun mall – ke negeri baru yang pemimpinnya senantiasa berada di tengah-tengah kaum miskin.
Negeri baru yang pemimpinnya adalah ayah sejati, guru sejati, hakim sejati, panglima sejati, orang terakhir yang merasakan kenyang setelah seluruh rakyatnya kebagian makan.
Madinah Al Munawwarah
Dan hal pertama yang dilakukan Nabi SAW setiba beliau di Madinah Al Munawwarah adalah membangun masjid. Memang bukan masjid berkubah emas yang digunakan untuk sholat Jumat dan selebihnya untuk resepsi pernikahan artis. Masjid pertama di dunia itu hanyalah sebuah bangunan teramat sangat bersahaja namun sangat fungsional.
Lima kali sehari masjid itu dipadati ummat Islam dari seluruh penjuru Negeri Madinah untuk melakukan shalat berjamaah. Ilustrasinya, Nabi Muhammad SAW ibarat presiden sekaligus celebrity paling terkenal di masa itu. Setiap kata yang meluncur dari bibirnya begitu hidup, begitu indah, penuh rahmat dan barakah. Sehingga orang tidak keberatan menempuh perjalanan berhari-hari hanya untuk mendengar kata-kata beliau.
Di Madinah pula Nabi SAW menginstruksikan agar setiap muslim menjadi saudara sejati bagi muslim lainnya. Tidak ada perbedaan status sosial. Tidak boleh ada seseorang yang lapar sementara tetangganya kekenyangan. Sesungguhnyalah, cita-cita ideal Marx dan Weber telah diwujudkan oleh Rasulullah Muhammad SAW di Negeri Madinah saat itu.
Tetapi kaum kafir Mekkah masih menyimpan dendam. Beberapa kali terjadi peperangan besar antara Negeri Makkah dan Madinah. Ummat Islam, selain memperoleh sejumlah kemenangan telak yang telah menambah kekayaan mereka dari rampasan perang, juga pernah kalah dan kehilangan orang-orang terbaik mereka.
Makkah adalah tanah kelahiran Rasulullah SAW dan sejumlah besar sahabat yang mulia. Berkali-kali Rasulullah SAW berharap, kiblat yang saat itu berada di Masjidil Axa agar dipindah ke Ka’bah. Allah memahami kerinduan Rasul-Nya, dan mewahyukan pemindahan kiblat itu.
Setelah sepuluh tahun dan berkali-kali pertempuran Makkah-Madinah, akhirnya Rasulullah dan segenap sahabatnya bertekad melaksanakan Haji ke Ka’bah, yang merupakan puncak kerinduan mereka.
Hampir seluruh penduduk Mekkah ketakutan akan kehadiran Ummat Islam di negeri mereka. Karena itu penduduk Mekkah menolak kehadiran Ummat Islam. Rasulullah mengatakan, mereka mereka tidak bermaksud menyerang. Mereka hanya ingin melakukan Ibadah Haji.
Karena Rasulullah SAW adalah seorang yang terpercaya, penduduk Mekkah akhirnya menerima, dengan catatan bahwa kunjungan haji baru boleh dilakukan tahun depan.
Sejumlah sahabat seperti Umar bin Khatab menolak karena meyakini bahwa kekuatan Ummat Islam saat itu sudah sangat kuat. Bila harus berperang, kemungkinan besar pasukan islam akan menang.
Tetapi Rasulullah SAW menerima syarat yang diajukan penduduk Makkah demi tujuan yang lebih besar. Tujuan dakwa jangka panjang.
Tahun berikutnya, segenap ummat Islam berangkat haji ke Makkah, yang sekaligus merupakan Haji Wada’ bagi Rasulullah SAW. Makkah telah ditaklukkan secara damai.
Biografi Singkat
Para penulis biografi Nabi Saw pada umumnya sepakat bahwa Nabi Muhammad Saw lahir di Tahun Gajah 570 M. Adalah pasti bahwa Beliau Saw meninggal tahun 632 M. Bila saat itu usianya 62-63 tahun, berarti Beliau Saw lahir tahun 570 M.
Hampir semua ahli hadits dan sejarawan sepakat bahwa Nabi Saw lahir di bulan Rabiulawal, kendati mereka berbeda pendapat tentang tanggalnya. Kalangan Syi’ah menyatakan bahwa Nabi lahir pada hari Jumat, 17 Rabiulawal, sedangkan kalangan Sunni percaya bahwa beliau lahir pada hari Senin, 12 Rabiulawal atau (2 Agustus 570M).
Muhammad bin Abdullah bin Abdul Manaf dilahirkan di kota Makkah. Abdullah, ayahnya, meninggal dunia sebelum ia dilahirkan.
Ketika ia berusia enam tahun, ibunya tercinta juga harus meninggalkan dunia fana ini.
Maka beliau dibesarkan oleh sang kakek, Abdul Muthalib, hingga berusia delapan tahun. Setelah Abdul Muthalib meninggal dunia, beliau tinggal bersama pamannya, Abu Thalib. Selama tinggal bersama Abu Thalib, perilakunya mendapat perhatian penduduk sekitar, dan tidak lama berselang ia telah mendapat tempat di hati mereka.
Berbeda dengan anak-anak sebayanya yang tidak menatanya dengan rapi, ia selalu menata rambutnya dan membersihkan wajah layaknya orang dewasa.
Ia tidak pernah rakus terhadap makanan. Teman-teman sebayanya – sebagaimana layaknya kebiasaan anak-anak kecil – selalu makan dengan tergesa-gesa, dan kadang-kadang mereka berebutan makanan. Tetapi Muhammad selalu mencukupkan diri dengan sedikit makanan dan menahan diri dari sifat tamak. Ia tidak pernah mengucapkan lapar atau haus, baik ketika ia masih kecil mau pun sesudah dewasa.
Pamannya, Abu Thalib, selalu menidurkannya di sampingnya. Ia pernah berkata: “Aku tidak pernah mendengar kata-kata bohong keluar dari mulutnya dan tidak pernah melihat kelakuan tak layak atau tawa tak senonoh darinya”.
Pada usia tiga belas tahun, Muhammad menemani Abu Thalib berdagang ke Syam (Syiria sekarang). Dalam perjalanan inilah keagungan jiwa dan sifat amanahnya teruji.
Pada usia dua puluh lima tahun ia menikah dengan Khadijah binti Khuwailid.
Pada usia dua puluh lima tahun ini, dengan menempatkan Hajarul Aswad di tempatnya semula, beliau telah mencegah terjadinya perang antar kabilah Makkah.
Mahatma Gandhi,
Si Pengagum Muhammad SAW
Suatu ketika, pemimpin besar Negeri India, Mahatma Gandhi, dikirimi cek dua puluh poundsterling oleh sahabatnya di Inggris, Madeline. Sebagai ucapan terima kasih, Gandhi mengirimkan sepucuk surat balasan kepada Madeline, isi pesannya “Terima kasih atas cek dua puluh pound yang kau kirimkan. Uang itu akan digunakan untuk mempopulerkan roda pintal”.
Pada masa itu, roda pintal adalah monumen perjuangan masyarakat India. Di bawah bimbingan Gandhi, simbol perjuangan itu kemudian menjelma menjadi simbol dalam banyak hal: kaum miskin, perjuangan negeri India untuk kemerdekaan, dan persaudaraan yang bersifat universal.
Bagi Gandhi, kemerdekaan dapat diwujudkan melalui kemandirian masing-masing warga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mahatma Gandhi melakukan gerakan nonkooperatif terhadap penjajah Inggris kala itu, sebuah gerakan politik moral yang berdasararkan pada semangat swadeshi dan swasembada.
Baik swadeshi maupun swasembada sangat erat kaitannya dengan swaraj yang berarti kebebasan, atau kemerdekaan, yang mustahil tercapai tanpa bertumpu pada kekuatan sendiri, baik secara fisik maupun mental.
Ajaran Gandhi sebenarnya bukanlah ajaran asing yang susah diwujudkan. Semua agama mengajarkan kemandirian dan kesederhanaan. Bahkan dalam salah satu memoarnya, Gandhi secara jujur mengakui kekagumannya pada ajaran Rasul Muhammad tentang gaya hidup sederhana.
Dalam Young India 1922, Gandhi menulis, “Saya ingin mengetahui tentang manusia paling berpengaruh dalam hati jutaan umat manusia…. Saya semakin bertambah yakin bahkan kemenangan yang didapat oleh Islam pada masa-masa itu bukanlah dari ayunan pedang.
Kemenangan itu buah dari kesederhanaan Nabi yang gigih. Keikhlasan Nabi yang telah mencapai puncaknya, kehati-hatian terhadap semua amanat yang diembannya, pengabdian yang mendalam terhadap para sahabat dan pengikutnya, ketidaktakutannya, serta keyakinan yang sempurna terhadap Tuhan dan misinya.
Inilah semua dan bukanlah jalan pedang yang mengatasi semua halangan-halangan itu. Ketika saya menyelesaikan bab kedua dari biografi sang Nabi, saya menyesal: sudah tidak ada lagi kehidupan agung lain yang bisa saya pelajari.”
Bila Gandhi dapat balajar dari kesederhanaan dan keagungan Rasul Muhammad, tentu saja mayoritas umat Islam Indonesia juga dapat melakukannya secara lebih baik.
Memintal, menurut Gandhi, dapat mengurangi tingkat kemiskinan India dan membuat kaum miskin mandiri secara ekonomi. Selain dari keuntungan ekonomi, melalui aktivitas memintal, seseorang dapat berjam-jam berdiam diri, berdisiplin, menghadapi proses penciptaan selembar kain bagi pakaiannya. Kesabaran dan penghargaan pada proses akan mengantarkan seseorang pada kesadaran prinsip hidup.
Swasembada dan swadeshi model Gandhi dapat menjadi solusi alternatif dari masalah perekonomian Indonesia saat ini. Hanya, model ini dapat dilakukan bila kita memiliki pemahaman yang memadai tentang esensi pembebasan dari keterjajahan. Sempitnya pemahaman pembebasan dari substansi keterjajahan menyebabkan manusia sering ditipu oleh kepentingan jangka pendek.
Bagi Gandhi, kehormatan manusia itu bisa dikaitkan dengan kehormatan kerjanya. Seseorang yang tidak bisa menerima kerja sebagai kehormatan, dia sendiri tidak akan memiliki kehormatan. Jadi, tidak ada alasan bagi seseorang untuk berpangku tangan.
Kita sangat membutuhkan gagasan Gandhi karena dalam beberapa aspek kita tak bisa menggunakan kekayaan sumber daya bagi kesejahteraan bersama. Konon, Indonesia merupakan negeri yang kaya akan sumber daya alam yang melimpah ruah dari Sabang sampai Merauke dan memiliki potensi sumber daya manusia yang sangat banyak sekitar dua ratus jutaan. Namun dari jumlah yang banyak tersebut, kebanyakan adalah pengangguran.
Realitas sosial ini seharusnya telah mendorong generasi muda untuk berpikir kritis dan bertindak praktis. Selama generasi muda masih beranggapan bahwa pekerjaan hanya bisa dicari dan bukan diciptakan, maka fenomena berdesak-desakan di bursa lowongan kerja akan semakin meluber bagai luapan lumpur Lapindo Brantas.
Kondisi ini akan semakin sulit apabila generasi muda maupun masyarakat pada umumnya terjebak pada pola konsumerisme dan materialisme. Menyebabkan orientasi hidup lebih terarah pada kepemilikan benda-benda, bukan pada pola produktivitas karya dan kerja. Konsumerisme sesngguhnya telah menggerogoti kemandirian bangsa.
Semoga masih ada riak-riak kecil dari generasi muda yang dapat memberikan harapan bagi munculnya kemandirian. Munculnya komunitas-komunitas kreatif seperti penerbit-penerbit buku baru dan distro yang digawangi para mahasiswa, meski awalnya sekadar pemenuhan kebutuhan komunitasnya.
Perusahaan-perusahaan rekaman yang berada di bawah kibaran indie label adalah salah satu bentuk perlawanan terhadap perusahaan konvensional. Home Industry seperti kue atau penganan lain yang awalnya hanya pesanan tetangga, bisa berkembang menjadi komoditas.
Semangat ini dalam beberapa hal mirip dengan semangat swasembada dan swadeshi Gandhi. Bila semangat ini mampu menggema dan menjalar sampai ke relung kalbu dan urat-urat nadi seluruh generasi muda bangsa Indonesia, mungkin yang terjadi pada fenomena bursa lowongan kerja tidak akan seperti sekarang.
Yang terjadi malah bursa lowongan kerja sepi peminat, bahkan mereka tidak sempat lagi memikirkan untuk melamar kerja. Generasi muda masa depan lebih memilih untuk menciptakan pekerjaannya sendiri ketimbang menggantungkan diri menjadi seorang pegawai atau buruh dari sebuah perusahaan asing.
Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain!
speed reading… puanjang banget untuk sebuah postingan di blog…
Komentar oleh Suluh — Juni 6, 2007 @ 4:40 am |