jedi

Juni 5, 2007

sebuah tinjauan tentang Sunnah

Diarsipkan di bawah: diskursus, selebaran — xatryajedi @ 12:55 pm

ilustrasi-avatar.jpg

di-posting oleh : Iftitah Axa Qauniah


Muhammad, sang Avatar*

sebuah tinjauan tentang Sunnah

pengantar

“Aku mewariskan dua hal, yang bila kedu­anya kalian ikuti maka kedua hal itu akan menyelamatkan kalian di dunia dan akhirat. Ke­dua hal itu adalah Al Quran dan Sunnah,” kata Baginda Rasulullah menjelang kemangkatan be­liau.

Entah mengapa, istilah Sunnah kini diartikan sebagai sesuatu yang bila dikerjakan mendapat pahala, bila tidak dikerjakan ya tidak apa-apa.

Lalu bagaimana dengan sholat, misalnya? Al Quran tidak merinci bagaimana tata-cara sholat, ruku’, i’tidal, sujud, dan sebagainya. Sunnah-lah yang menjelaskan rincian itu.

Pertanyaannya, apakah melakukan tatacara sholat sebagaimana yang diajarkan Nabi SAW itu hukumnya “bila tidak dilakukan ya tidak apa-apa”?

 

 

Sang Nabi yang kemangkatannya tercatat pada tahun 632 M itu sesungguhnyalah telah mewariskan khazanah ilmu yang bila disalin ke atas kertas maka telaahnya takkan muat dalam selemari penuh buku.

Belum terhitung kitab-kitab sejenis dari Duratun-Nasiin, Bulughul Maram, Nahjul Ba­la­ghah, berbagai sirah versi Munawar Khalil, Haekal, Annemarie Schimmel, dan lain-lain. Bahkan keempat kitab tebal hadis sahih Bukhari dan empat kitab pula dari hadis sahih Muslim yang konon kesahihannya paling terjamin itu ternyata hanya memuat sangat sedikit dari seluruh hadis yang ada.

Repotnya, baik Imam Bukhari maupun Imam Muslim sendiri mengakui bahwa secara kuantitatif, hadis yang mereka riwayatkan tak lebih dari seperlima dari seluruh hadis yang se­harusnya ada. Kemana sisanya, yang empat per­lima?

Sebagian dari yang empat perlima tidak dimuat karena Bukhari dan Muslim sendiri menyangsikan kesahihannya. Dan hadis sahih Bukhari-Muslim sendiri sesungguhnyalah masih menyisakan sejumlah pertanyaan. Misalnya hadis sahih Bukhori-Muslim yang mengatakan bahwa mata air sungai Nil terletak di surga. Padahal peta dunia menunjukkan bahwa mata air sungai Nil terletak di benua Afrika. Wallahu’alam.

Imam paling terkemuka di negeri Iran pasca jatuhnya rezim Syah Reza Pahlevi, Imam Khomayni, membahas sepuluh hadis dengan cara yang sangat menarik, indah, mendalam, dan tentu saja sangat bekualitas, dalam sebuah kitab setebal ratusan lembar. Imam Khomayni lalu melanjutkan dengan tiga puluh hadis lain, dan menamai bukunya Empat Puluh Hadis Pilihan.

Sayang, tiga puluh hadis yang ditulis be­lakangan begitu kental dengan aroma Syiah. Se­hingga kaum Sunni emoh membacanya. Padahal sepuluh hadis pertama yang netral itu benar-be­nar berhasil menunjukkan keutamaan akhlak mulia sang Rasulullah SAW.

Konon Imam Ali, Radhiyallahu Anhu, yang di masa Rasulullah SAW digelari sebagai gerbang ilmu, merupakan satu dari sedikit orang yang menyimpan seluruh khazanah hadis Nabi SAW. Nabi sendiri yang menganugerahi Ali dengan gelar itu. Dan konon Sayidina Ali pula yang per­nah mengutarakan bahwa sekiranya ia menyam­paikan seluruh hadis Nabi SAW maka orang akan menuduhnya sesat.

Kontroversi mengenai apakah sebuah hadis sahih atau tidak, senantiasa bisa memicu perde­batan, dan ini jelas berakibat langsung pada pa­paran sejarah keberadaan Sang Nabi SAW.

Salah satu topik yang debatable adalah kisah tentang dua malaikat yang membelah dada Muhammad semasa beliau masih kanak-kanak. Sekelompok orang meyakini kisah itu se­cara apa adanya, sementara sekelompok lain meyakini bahwa kisah itu adalah sebuah metafora.

Namun bagaimanapun juga, masih cukup banyak hadis maupun catatan riwayat Sang Nabi yang universal dan sesuai dengan realitas se­jarah maupun perkembangan ilmu penge­tahuan, bahkan yang paling modern sekalipun.

selaras dengan alam

Pelajaran pertama dari seluruh perjalanan Sang Nabi SAW adalah tentang kejujuran. Nabi SAW adalah orang yang sama-sekali tidak per­nah berbohong seumur hidupnya. Maka bila kita ingin belajar dari Beliau SAW, pelajaran pertama yang seharusnya kita teladani adalah tentang berjuang melakukan kejujuran.

Ini pelajaran pertama dan kita belum mela­ku­kannya.

Muhammad Sang Habibillah telah menjadi insan terpercaya bahkan sebelum beliau di­jadi­kan-Nya sebagai Rasul-Nya. Seakan secara tersi­rat Allah mengajarkan kepada kita bahwa seorang calon pemimpin ummat, sebelum men­jadi pemimpin haruslah terlebih dahulu menjadi manusia jujur. Karena seseorang hanya bisa memperoleh keberhasilan sejati melalui keju­juran.

Namun ditinjau dari sisi lain, hanya manu­sialah satu-satunya mahluk di dalam alam semesta ini yang mampu berbuat tidak jujur. Alam tidak pernah berbohong. Matahari tidak pernah absen untuk terbit tiap pagi dari sebelah timur. Api tidak pernah pura-pura dingin, dan es tidak pernah panas.

Elektron tak pernah bolos dari tugasnya mengitari inti atom. Tubuh manusia pun tunduk pada hukum alam. Pada periode tertentu tubuh butuh makan, tidur, dan sebagainya. Maka teknologi dari yang paling sederhana hingga nanoteknologi mutakhir abad ini berkembang atas dasar hukum alam yang selalu bisa diper­caya. Alam selalu bisa diandalkan.

Beda dengan jiwa manusia. Orang bisa pura-pura tersenyum meski sepenuh hatinya menyim­pan sebongkah kebencian. Manusia bisa berjanji dan setiap saat bisa mengingkari. Manusia tak selalu bisa diandalkan.

Frasa “terpercaya” dalam bahasa Arab adalah al amin, dan dalam serapan bahasa In­donesia adalah kredibel (credible). Semakin tinggi kredibilitas seseorang, semakin besar pula peluangnya untuk memenangkan berbagai per­tarungan hidup. Begitu pula sebaliknya.

Maka Muhammad Sang Kekasih Allah sesungguhnya telah meneladankan kepada kita keutamaan untuk meniti jalan kejujuran, selaras dengan jujurnya alam.

Kalau Rasulullah SAW berjanji, beliau pasti menepati, setepat janji matahari untuk terbit esok pagi. Kalau bicara tak pernah berdusta, dan tak pernah mengkhianati kepercayaan yang diberikan kepadanya. Rasulullah SAW selalu bisa diandalkan.

definisi

“Aku mewariskan dua hal, yang bila kedu­anya kalian ikuti maka kedua hal itu akan menyelamatkan kalian di dunia dan akhirat. Ke­dua hal itu adalah Al Quran dan Sunnah,” kata Baginda Rasulullah menjelang kemangkatan be­liau.

Entah mengapa, istilah Sunnah kini diartikan sebagai sesuatu yang bila dikerjakan mendapat pahala, bila tidak dikerjakan ya tidak apa-apa.

Lalu bagaimana dengan sholat, misalnya? Al Quran tidak merinci bagaimana tata-cara sholat, ruku’, i’tidal, sujud, dan sebagainya. Sunnah-lah yang menjelaskan rincian itu.

Pertanyaannya, apakah melakukan tatacara sholat sebagaimana yang diajarkan Nabi SAW itu hukumnya “bila tidak dilakukan ya tidak apa-apa”?

Tak mungkin, bukan? Ketetapan Hukum un­tuk melakukan sholat persis sebagaimana Nabi SAW melakukan­nya adalah fardhu’ain. Semua ulama sepakat akan hal itu.

Satu contoh lagi. Nabi SAW mengatakan bahwa orang yang tidur dalam keadaan kenyang sedangkan tetangganya kelaparan maka si orang yang kenyang itu tidak nggak bakalan masuk surga. Berarti kalau kita kenyang dan akan tidur maka kita harus periksa jangan sampai ada tetangga yang lapar. Ini wajib atau sunnah?

Jawabannya jelas : Sunnah adalah tata-cara atau petunjuk teknis bagaimana melakukan seti­ap kewajiban. Seperti kata Nabi SAW, Quran dan Sunnah tidak boleh ditinggalkan. Jadi, anggapan kuno bahwa sunnah “bila tidak dilakukan ya tidak apa-apa” adalah seratus persen ngaco.

Definisi sunnah yang relatif lebih tepat, menurut arsitek kodifikasi Hukum Negara Islam Pakistan, Fazlurrahman; bahwa Sunnah adalah seluruh ucapan dan perbuatan Nabi Muhammad ditambah dengan gagasan para Sahabat yang disetujui Rasulullah SAW. Dengan kata lain, seluruh rangkaian kehidupan Nabi SAW sejak beliau diangkat menjadi Nabi hingga ke­wafatannya, adalah sepenuhnya Sunnah.

Karena Nabi SAW adalah manusia yang Mak­sum. Yang seluruh peri-kehidupannya adalah im­plementasi Al Quran. Atau dengan kata lain bah­wa Al Quran adalah konsep, sedangkan Sunnah adalah praktek. Quran dan Sunnah adalah dua sisi dari koin yang itu-itu juga.

ringkasan Sunnah

Muhammad bin Abdullah diangkat menjadi rasulullah pada usia empat puluh tahun, dan selama tiga tahun pertama dalam kerasulannya beliau berdak­wah secara diam-diam di kota Makkah.

Setelah masa tiga tahun berlalu, turunlah ayat yang berbunyi: “ya ayyuhal muddatsir, kum fa andzir…”. Rasulullah SAW mulai melaku­kan dakwah dengan terang-terangan. Rasulullah SAW mendeklarasikan Syahadah. La illaha illa­llah, Muhammadur­rasulullah.

Dan semenjak itu pula para pembesar Quraisy mendeklarasikan penentangan terhadap Rasulullah SAW, menghalang-halangi dan merin­tangi setiap aktivitas dakwahnya. Selama belas­an tahun, Rasulullah SAW tegar dan tidak mun­dur selangkah pun dari missinya, menghadapi segala hambatan dan rintangan yang dilakukan oleh para pembesar Quraisy.

Pertanyaannya, mengapa masyarakat Mek­kah menolak dakwah yang mulia itu?

Pertama karena Islam yang hakiki yang disampaikan para Nabi dan Rasulullah se­sung­guhnya senantiasa merupakah sistem kehidupan yang total, menyeluruh, dan sekaligus merupa­kan antitesis terhadap sistem kehidupan yang dibuat dan dilakukan masyarakat manusia.

Kedua karena, sebagai konsekuensinya, maka memeluk Islam berarti membongkar dan mencampakkan seluruh tata-nilai konven­sional. Persaudaraan, persahabatan, dan kasih-sayang tidak lagi didasarkan pada semata-mata pertali­an darah atau nasionalisme. Melainkan didasarkan pada Illah yang sejati, Allah.

Islam tak mungkin menjadi subsistem. Beberapa manusia mulia Dari Socrates, Aristo­te­les, Marx, Weber, Kant, hingga Descartes, menciptakan tatanan hidup mencakup ekonomi, sosial, politik, dan hukum, dengan segala kekurangan dan kelemahan masing-masing. Dan Di jaman Muhamad SAW, semua rekaan manusia dibongkar dan diganti dengan tatan­an Islami yang orientasinya hanya satu: Allah. Tolok ukur kebenaran bukan lagi ditentukan oleh opini publik melainkan oleh Al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Jelas saja para pembesar menolak sistem baru itu. Hanya pembesar yang punya hati nura­ni dan kejujuran saja yang bisa menerimanya, semisal Abu Bakar, Usman bin Affan, atau Abdurrahman bin Auf. Selebihnya, orang yang bisa menerima Islam hanyalah kaum dhuafa yang selama ini terpinggirkan namun kini tercerahkan.

Sembilan tahun Muhammad SAW berdakwah di Makkah sejak beliau dinubuwahkan menjadi pengemban missi risalah hingga hijrah ke Madi­nah. Namun tak banyak catatan sejarah selama ribuan hari atau jutaan jam yang beliau habiskan di lorong-lorong Kota Mekkah.

Apa saja yang beliau lakukan dan bin­cangkan dengan segelintir Sahabat di Pondok Ar­qam, setiap hari selama sembilan tahun? Bagaimana beliau mengelola dan membina rumah-tangga dan anak-isteri para Sahabat, agar semua yang ada tetap istiqamah di jalan Tawhid?

Adalah misterius bahwa tak banyak catatan tentang pembinaan As-Sabiqunal Awwalun itu, yang nota-bene adalah generasi terbaik sepan­jang se­jarah dunia.

Yang kita tahu cuma hasilnya. Bahwa Ali r.a menjadi “gerbang ilmu”. Bahwa Abu Bakar men­jadi “As Siddiq”. Bahwa Bilal, suara terompahnya pun telah terdengar di sorga. Bahwa Umar men­jadi “Al Faruq”.

Yang jelas bahwa segenap ummat Islam yang sangat minoritas saat itu saban hari berkumpul di Darul Arqam, dengan Rasulullah SAW di tengah-tengah mereka. Kalau pake istilah jaman sekarang, kalangan Darul Arqam itu ek­sklusif.

Kata orang jahiliyah, “Islam jangan eksklusif dong, tapi harus inklusif. Eksklusif itu jadul banget gitu loh. Makanya inklusif aja. Kalo inklusif itu gaul, funky, jangan usil sama orang yang nggak solat dan rutin ke dugem. Soal ibadah ‘kan urusan masing-masing.”

Tapi gerombolan Darul Arqam tetap inklusif. Bahasa Qurannya, furqan. Artinya, ada tembok virtual yang memisahkan dan membedakan mereka dari masyarakat Mekkah saat itu.

Ummat Islam Diboikot

Pada tahun keenam setelah kerasulan Muhammad SAW, ummat Islam yang cuma segelintir itu diboikot. Masyarakat Mekkah dilarang melakukan aktivitas sosial apapun, temasuk jual-beli, dengan warga muslim. Akibatnya kaum muslim mengalami berbagai cobaan dan ujian berupa wabah disentri dan sebagainya.

Pada saat itulah Rasululullah SAW mengatakan bahwa kanak-kanak dan bayi yang wafat maka ibunda mereka berhak atas pahala syuhada. Dan warga Muslim yang wafat dalam pemboikotan itu berstatus syahid.

Setelah berlangsung tiga tahun, pemboikot­an oleh rezim Mekkah yang dimaksudkan untuk menghabisi kaum muslim itu ternyata gagal. Justru kaum muslim bagai melalui kawah candra­dimuka: Pemboikotan itu bukannya melemah­kan, malah menjadikan mental mereka sekuat baja.

Hijrah

Setelah hampir sepuluh tahun kaum muslimin diintimidasi, dikejar-kejar, disiksa, dan dibunuh, Allah memerintahkan ummat Islam ge­ne­rasi As-Sabiqunal Awwalun itu untuk melaku­kan Hijrah.

Gerakan hijrah adalam monumen kebangkit­an Ummat Islam.

Beberapa telaah mengatakan bahwa hijrah dilakukan karena Ummat Islam tertekan di Mekkah. Pendapat tersebut mungkin ada benarnya, tetapi tidak sepenuhnya benar. Karena pendapat tersebut mengesankan bahwa Ummat Islam adalah orang-orang pengecut yang lari dari persoalan.

Yang jelas, Ummat Islam melakukan Hijrah karena Allah memerintahkan mereka melalui Al Quran, melalui wahyu, untuk melakukan hijrah. Nabi SAW sendiri baru berangkat hijrah setelah ada komando resmi berupa ayat Al Quran yang menginstruksikan Nabi Muhammad SAW agar segera mempersiapkan diri dan berangkat hijrah. Nabi SAW tidak berangkat sebelum ada perintah berangkat.

Jadi, hijrah adalah perintah Allah Sang Pengasih kepada Ummat Islam. Hijrah minaz-zulumat ilan-Nur. Hijrah dari kekacau-balauan ke­pa­da Cahaya Terang-Benderang. Hijrah dari Negeri Mekkah yang korup dan penuh skandal, ke negeri baru dengan tatanan baru yang sepenuhnya Islami.

Hijrah dari negeri yang polisi serta hakimnya bisa dibeli, ke negeri yang sungguh-sungguh menegakkan keadilan dan kesejahteraan yang merata. Hijrah dari negeri yang menteri dan gubernurnya mengizin­kan penggu­suran rakyat miskin agar tanah mereka bisa dibangun mall – ke negeri baru yang pemimpinnya senantiasa berada di tengah-tengah kaum miskin.

Negeri baru yang pemimpinnya adalah ayah sejati, guru sejati, hakim sejati, panglima sejati, orang terakhir yang merasakan kenyang setelah seluruh rakyatnya kebagian makan.

Madinah Al Munawwarah

Dan hal pertama yang dilakukan Nabi SAW setiba beliau di Madinah Al Munawwarah adalah membangun masjid. Memang bukan masjid berkubah emas yang digunakan untuk sholat Jumat dan selebihnya untuk resepsi pernikahan artis. Masjid pertama di dunia itu hanyalah sebuah bangunan teramat sangat bersahaja namun sangat fungsional.

Lima kali sehari masjid itu dipadati ummat Islam dari seluruh penjuru Negeri Madinah untuk melakukan shalat berjamaah. Ilustrasinya, Nabi Muhammad SAW ibarat presiden sekaligus celebrity paling terkenal di masa itu. Setiap kata yang meluncur dari bibirnya begitu hidup, begitu indah, penuh rahmat dan barakah. Sehingga orang tidak keberatan menempuh perjalanan berhari-hari hanya untuk mendengar kata-kata beliau.

Di Madinah pula Nabi SAW menginstruksikan agar setiap muslim menjadi saudara sejati bagi muslim lainnya. Tidak ada perbedaan status sosial. Tidak boleh ada seseorang yang lapar sementara tetangganya kekenyangan. Sesung­guh­nyalah, cita-cita ideal Marx dan Weber telah diwujudkan oleh Rasulullah Muhammad SAW di Negeri Madinah saat itu.

Tetapi kaum kafir Mekkah masih menyimpan dendam. Beberapa kali terjadi peperangan besar antara Negeri Makkah dan Madinah. Ummat Islam, selain memperoleh sejumlah kemenangan telak yang telah menambah kekayaan mereka dari rampasan perang, juga pernah kalah dan kehilangan orang-orang terbaik mereka.

Makkah adalah tanah kelahiran Rasulullah SAW dan sejumlah besar sahabat yang mulia. Berkali-kali Rasulullah SAW berharap, kiblat yang saat itu berada di Masjidil Axa agar dipindah ke Ka’bah. Allah memahami kerinduan Rasul-Nya, dan mewahyukan pemindahan kiblat itu.

Setelah sepuluh tahun dan berkali-kali pertempuran Makkah-Madinah, akhirnya Rasul­ullah dan segenap sahabatnya bertekad melak­sanakan Haji ke Ka’bah, yang merupakan pun­cak kerinduan mereka.

Hampir seluruh penduduk Mekkah ketakutan akan kehadiran Ummat Islam di negeri mereka. Karena itu penduduk Mekkah menolak kehadiran Ummat Islam. Rasulullah mengatakan, mereka mereka tidak bermaksud menyerang. Mereka hanya ingin melakukan Ibadah Haji.

Karena Rasulullah SAW adalah seorang yang terpercaya, penduduk Mekkah akhirnya meneri­ma, dengan catatan bahwa kunjungan haji baru boleh dilakukan tahun depan.

Sejumlah sahabat seperti Umar bin Khatab menolak karena meyakini bahwa kekuatan Ummat Islam saat itu sudah sangat kuat. Bila harus berperang, kemungkinan besar pasukan islam akan menang.

Tetapi Rasulullah SAW menerima syarat yang diajukan penduduk Makkah demi tujuan yang lebih besar. Tujuan dakwa jangka panjang.

Tahun berikutnya, segenap ummat Islam berangkat haji ke Makkah, yang sekaligus merupakan Haji Wada’ bagi Rasulullah SAW. Makkah telah ditaklukkan secara damai.

Biografi Singkat

Para penulis biografi Nabi Saw pada umum­nya sepakat bahwa Nabi Muhammad Saw lahir di Tahun Gajah 570 M. Adalah pasti bahwa Beliau Saw meninggal tahun 632 M. Bila saat itu usianya 62-63 tahun, berarti Beliau Saw lahir tahun 570 M.

Hampir semua ahli hadits dan sejarawan sepakat bahwa Nabi Saw lahir di bulan Rabiulaw­al, kendati mereka berbeda pendapat tentang tanggalnya. Kalangan Syi’ah menyatakan bahwa Nabi lahir pada hari Jumat, 17 Rabiulawal, sedangkan kalangan Sunni percaya bahwa beli­au lahir pada hari Senin, 12 Rabiulawal atau (2 Agustus 570M).

Muhammad bin Abdullah bin Abdul Manaf di­lahirkan di kota Makkah. Abdullah, ayahnya, meninggal dunia sebelum ia dilahirkan.

Ketika ia berusia enam tahun, ibunya tercinta juga harus meninggalkan dunia fana ini.

Maka beliau dibesarkan oleh sang kakek, Ab­dul Muthalib, hingga berusia delapan tahun. Setelah Abdul Muthalib meninggal dunia, beliau tinggal bersama pamannya, Abu Thalib. Selama tinggal bersama Abu Thalib, perilakunya menda­pat perhatian penduduk sekitar, dan tidak lama berselang ia telah mendapat tempat di hati mereka.

Berbeda dengan anak-anak sebayanya yang tidak menatanya dengan rapi, ia selalu menata rambutnya dan membersihkan wajah layaknya orang dewasa.

Ia tidak pernah rakus terhadap makanan. Te­man-teman sebayanya – sebagaimana layaknya kebiasaan anak-anak kecil – selalu makan de­ngan tergesa-gesa, dan kadang-kadang mereka berebutan makanan. Tetapi Muhammad selalu mencukupkan diri dengan sedikit makanan dan menahan diri dari sifat tamak. Ia tidak pernah mengucapkan lapar atau haus, baik ketika ia masih kecil mau pun sesudah dewasa.

Pamannya, Abu Thalib, selalu menidurkan­nya di sampingnya. Ia pernah berkata: “Aku tidak pernah mendengar kata-kata bohong keluar dari mulutnya dan tidak pernah melihat kelakuan tak layak atau tawa tak senonoh darinya”.

Pada usia tiga belas tahun, Muhammad menemani Abu Thalib berdagang ke Syam (Syiria sekarang). Dalam perjalanan inilah keagungan jiwa dan sifat amanahnya teruji.

Pada usia dua puluh lima tahun ia menikah dengan Khadijah binti Khuwailid.

Pada usia dua puluh lima tahun ini, dengan menempatkan Hajarul Aswad di tempat­nya semula, beliau telah mencegah terjadinya perang an­tar kabilah Makkah.

Mahatma Gandhi,

Si Pengagum Muhammad SAW

Suatu ketika, pemimpin besar Negeri India, Mahatma Gandhi, dikirimi cek dua puluh poundsterling oleh sahabatnya di Inggris, Madeline. Sebagai ucapan terima kasih, Gandhi mengirim­kan sepucuk surat balasan kepada Madeline, isi pesannya “Terima kasih atas cek dua puluh pound yang kau kirimkan. Uang itu akan digunakan untuk mempopulerkan roda pintal”.

Pada masa itu, roda pintal adalah monumen perjuangan masyarakat India. Di bawah bimbing­an Gandhi, simbol perjuangan itu kemudian menjelma menjadi simbol dalam banyak hal: kaum miskin, perjuangan negeri India untuk kemerdekaan, dan persaudaraan yang bersifat universal.

Bagi Gandhi, kemerdekaan dapat diwujud­kan melalui kemandirian masing-masing warga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mahat­ma Gandhi melakukan gerakan nonkooperatif terhadap penjajah Inggris kala itu, sebuah gerakan politik moral yang berdasararkan pada semangat swadeshi dan swasembada.

Baik swadeshi maupun swa­sem­bada sangat erat kaitannya dengan swaraj yang berarti kebebasan, atau kemerdekaan, yang mustahil tercapai tanpa ber­tumpu pada kekuatan sendiri, baik secara fisik maupun mental.

Ajaran Gandhi sebenarnya bukanlah ajaran asing yang susah diwujudkan. Semua agama mengajarkan kemandirian dan kesederhanaan. Bahkan dalam salah satu memoarnya, Gandhi secara jujur mengakui kekagumannya pada ajaran Rasul Muhammad tentang gaya hidup sederhana.

Dalam Young India 1922, Gandhi menulis, “Saya ingin mengetahui tentang manusia paling berpengaruh dalam hati jutaan umat manusia…. Saya semakin bertambah yakin bahkan keme­nangan yang didapat oleh Islam pada masa-masa itu bukanlah dari ayunan pedang.

Kemenangan itu buah dari kesederhanaan Nabi yang gigih. Keikhlasan Nabi yang telah mencapai puncaknya, kehati-hatian terhadap semua amanat yang diembannya, pengabdian yang mendalam terhadap para sahabat dan pengikutnya, ketidaktakutannya, serta keyakin­an yang sempurna terhadap Tuhan dan misinya.

Inilah semua dan bukanlah jalan pedang yang mengatasi semua halangan-halangan itu. Ketika saya menyelesaikan bab kedua dari biografi sang Nabi, saya menyesal: sudah tidak ada lagi kehidupan agung lain yang bisa saya pelajari.”

Bila Gandhi dapat balajar dari kesederhana­an dan keagungan Rasul Muhammad, tentu saja mayoritas umat Islam Indonesia juga dapat melakukannya secara lebih baik.

Memintal, menurut Gandhi, dapat mengu­rangi tingkat kemiskinan India dan membuat kaum miskin mandiri secara ekonomi. Selain dari keuntungan ekonomi, melalui aktivitas memintal, seseorang dapat berjam-jam berdiam diri, berdisiplin, menghadapi proses penciptaan selembar kain bagi pakaiannya. Kesabaran dan penghargaan pada proses akan mengantarkan seseorang pada kesadaran prinsip hidup.

Swasembada dan swadeshi model Gandhi dapat menjadi solusi alternatif dari masalah perekonomian Indonesia saat ini. Hanya, model ini dapat dilakukan bila kita memiliki pemaham­an yang memadai tentang esensi pembebasan dari keterjajahan. Sempitnya pemahaman pem­be­bas­an dari substansi keterjajahan menyebab­kan manusia sering ditipu oleh kepen­tingan jangka pendek.

Bagi Gandhi, kehormatan manusia itu bisa dikaitkan dengan kehormatan kerjanya. Seseorang yang tidak bisa menerima kerja sebagai kehormatan, dia sendiri tidak akan memiliki kehormatan. Jadi, tidak ada alasan bagi seseorang untuk berpangku tangan.

Kita sangat membutuhkan gagasan Gandhi karena dalam beberapa aspek kita tak bisa menggunakan kekayaan sumber daya bagi kesejahteraan bersama. Konon, Indonesia merupakan negeri yang kaya akan sumber daya alam yang melimpah ruah dari Sabang sampai Merauke dan memiliki potensi sumber daya manusia yang sangat banyak sekitar dua ratus jutaan. Namun dari jumlah yang banyak tersebut, kebanyakan adalah pengangguran.

Realitas sosial ini seharusnya telah mendorong generasi muda untuk berpikir kritis dan bertindak praktis. Selama generasi muda masih beranggapan bahwa pekerjaan hanya bisa dicari dan bukan diciptakan, maka fenomena berdesak-desakan di bursa lowongan kerja akan semakin meluber bagai luapan lumpur Lapindo Brantas.

Kondisi ini akan semakin sulit apabila generasi muda maupun masyarakat pada umumnya terjebak pada pola konsumerisme dan materialisme. Menyebabkan orientasi hidup lebih terarah pada kepemilikan benda-benda, bukan pada pola produktivitas karya dan kerja. Konsumerisme sesngguhnya telah menggerogoti kemandirian bangsa.

Semoga masih ada riak-riak kecil dari generasi muda yang dapat memberikan harapan bagi munculnya kemandirian. Munculnya komu­ni­tas-komunitas kreatif seperti penerbit-penerbit buku baru dan distro yang diga­wangi para mahasiswa, meski awalnya sekadar pemenuhan kebutuhan komunitasnya.

Perusahaan-perusahaan rekaman yang berada di bawah kibaran indie label adalah salah satu bentuk perlawanan terhadap perusahaan konvensional. Home Industry seperti kue atau penganan lain yang awalnya hanya pesanan tetangga, bisa berkembang menjadi komoditas.

Semangat ini dalam beberapa hal mirip dengan semangat swasem­bada dan swadeshi Gandhi. Bila semangat ini mampu menggema dan menjalar sampai ke relung kalbu dan urat-urat nadi seluruh generasi muda bangsa Indonesia, mungkin yang terjadi pada fenomena bursa lowongan kerja tidak akan seperti sekarang.

Yang terjadi malah bursa lowongan kerja sepi peminat, bahkan mereka tidak sempat lagi memikirkan untuk melamar kerja. Generasi muda masa depan lebih memilih untuk menciptakan pekerjaannya sendiri ketimbang menggantungkan diri menjadi seorang pegawai atau buruh dari sebuah perusahaan asing.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain!

1 Komentar »

  1. speed reading… puanjang banget untuk sebuah postingan di blog…

    Komentar oleh Suluh — Juni 6, 2007 @ 4:40 am |


RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.

Blog pada WordPress.com.