Al Qiyadah “Taubat”
Sial bener, tokoh sempalan bermulut besar itu langsung tobat, padahal baru di sel beberapa hari. Dasar Mushaddeq tukang ngibul, bangsat. Ngaku-ngaku rasul, ngaku dapet wahyu, lalu mungkin kena tempeleng sekali oleh satreskrim polda, langsung terampun-ampun. Goblog.
Dia menjadi mahluk paling hina di dunia dan, mungkin, akhirat. Nasibnya begitu sial secara diametral dibanding “calon asy-syahid” imam samudra atau amrozi. Sama-sama mengusung Islam. Tetapi yang satu asli, yang lainnya palsu.
Sial. Padahal secara teoretis, argumen-argumen yang dia omongin cukup logis. Gue nyaris terpengaruh oleh kerangka teorinya, betapapun doktrin-doktrinnya mengandung sejumlah kelemahan. Gue pikir waktu itu, andai dia dan gue ketemu langsung maka mungkin dia akan bisa menutupi lobang-lobang argumentasinya.
Ternyata keburu ketangkep, dan langsung “taubat” ketakutan. Masak “rasul” se cemen itu tindakannya. Boro-boro hijrah dan perang badar. Sama miniatur Abulahab aja ketakutan. Anjing! Najis!
assalam akhi,
maksud akhi apa kok mushaddeq bertaubat akhi malah geram. sepertinya akhi lebih suka kalau ada rasul baru. mustinya kita syukuri kalau mushaddeq sudah bertaubat. saya bukan membela mushaddeq, kenal saja tidak cuma saya kira urusan apa dia mau jadi yang terhina atau termulya itu allah punya ya.
afwan kalau terlalu kasar
Komentar oleh aliformen — November 19, 2007 @ 1:23 pm |
Ngga, bos, nggga terlalu kasar. Alus, malah.
Maksud ane begini. Ane juga gak kenal mushaddeq. Tapi kenal beberapa “korbannya”. Dulu saya punya beberapa sohib kentel, lalu saya terpisah dari mereka karena mereka mengikuti paham Mushadeq, saya tidak. Dakwah mereka menggebu-gebu. Meski tidak setuju pada paham mereka yang tidak mewajibakan solat lima waktu, saya kagum pada dakwah mereka yang menggebu-gebu. Tau-tau rame berita tentang mushadeq. Salah seorang mantan teman saya itu ditahan di polres metro xx. Saya dengar dia pun sekarang “taubat”.
Jadi, itulah yang saya persoalkan. Dakwah mereka yang menggebu2 ternyata kalis oleh sekedar sel polisi. Mereka ternyata tidak se-ksatria amrozi, misalnya. Ini terlepas dari soal benar atau salah. Ini soal komitmen dan kesetiaan pada pandangan yang “terlanjur” kita peluk.
Komentar oleh xatryajedi — November 20, 2007 @ 10:15 am |