Setelah sekian puluh tahun melakukan, akhirnya shalat menjadi lebih mudah. Kuncinya sederhana: Pastikan kita ingat bahwa kita sedang berhadapan dengan Dia. Dan Dia tidak berada jauh di Mekah – atau di ujung langit sana. Melainkan di sini – di tempat terdekat yang bisa kita bayangkan. Sadari bahwa Dia melihat dan mendengar shalat kita.
Sebaiknya penyadaran ini dilakukan di awal shalat. Meski kadang saya terlupa dan baru teringat untuk menegaskannya segera saat teringat. Begitu ingat ini maka shalat terasa lebih mantap. Untuk menjaganya, usahakan menyertai setiap bacaan shalat dengan pemahaman.
Boleh jadi kita akan terganggu oleh kesadaran bahwa sebagian ucapan kita – dalam shalat – adalah kebohongan. Kita mengatakan “Sungguh shalatku, ibadahku, hidup-matiku, adalah bagi Allah” namun kata-kata ini ternyata dusta. Begitu pula kalimat “Hanya kepadamu kami mengabdi dan meminta”. Padahal kita tahu bahwa kita juga mengabdi kepada banyak oknum lain. Meminta kepada “tuhan” lain.
Tapi karena bacaan itu sudah digariskan bagi kita untuk membacanya, apa boleh buat. Kita membacanya disertai istighfar dan harapan semoga bisa menepati janji luhur itu.
Dalam prakteknya, saya memodifikasi pemaknaan atas banyak bacaan shalat. Misalnya ketika ruku, saya katakan dalam hati,
“Saya berta’zim kepada Paduka,
duhai Yang Maha Agung dan Mulia,
Yang Mahacantik dan Mahakaya…
Mohon kiranya Paduka berkenan menyampaikan salam kepada Rasulullah Muhammad yang Paduka Berkati, sebagaimana Berkah Paduka kepada Ibraim yang sudah mengurbankan putera tercinta beliau, Ismail…”
Acapkali saya membaca Al Fatihah diiringi terjemah bebas, kurang-lebih begini:
Saya berlindung kepada Allah dari setan (jin dan manusia) yang terkutuk.
Dengan Karakter Allah, Sang Pengasih-Penyayang.
Terpujilah Allah, dan hanya Allah, Pemilik Dan Pengelola semesta jagat makro dan mikro, jagat fisik dan non fisik, serta semua jagat yang saya ketahui dan tidak saya ketahui.
Allah, Entitas Kasih-Sayang itu sendiri
Penguasa di hari keteraturan, dan semua hari adalah teratur
Hanya kepada Paduka kami mengabdi
dan hanya kepada Paduka kami meminta tolong
Mohon kiranya Paduka berkenan membimbing dan mengarahkan kami pada shortcut yang Paduka anugerahi nikmat di sepanjang jalan itu
sebagaimana Paduka anugerahi nikmat itu pada para kekasih-Mu, para pemuja-Mu terdahulu
jangan biarkan kami menempuh jalan yang sesat dan jalan yang terkutuk
I mean it ..
Komentar oleh xatryajedi — Januari 12, 2008 @ 8:46 am |
Allah, Sang Pembesar yang sejati
Bertakzim kami kepada Paduka, Duhai yang sepenuhnya suci dalam kebesaran dan kemuliaan-Nya
(ampunilah takzim singkat yang mengandung dusta ini, duhai Yang Maha Mempesona, karena andai kami dapat sedikit saja mengindra pantulan bayang-bayang Paduka, maka pasti kami takkan kuasa untuk menghindari keinginginan agar menghadap-Mu selamanya – 24 jam perhari dan tujuh hari per minggu.)
Smoga Paduka berkenan mendengar grenengan ini…
Duhai Sang Pembesar
Bersujud kami di hadapan-Mu, duhai yang Mahatinggi, Maha Sempurna dan yang sepenuhnya suci dalam eksotisme terluhur
yang menyebabkan berlian menjadi samasekali tak berharga dibanding Paduka
Komentar oleh xatryajedi — Januari 12, 2008 @ 9:08 am |
kami mengemis ampunan-Mu
dan memohon kiranya Paduka berkenan mengasihi
ya Allah, kami memohon agar Paduka menyelamatkan kami dari semua kejahatan kami dan dari semua perilaku rendah dan kotor yang kami lakukan
ya Allah, mahluk hina dan busuk ini berhasrat akan posisi mulia di sisi Paduka
please Love, help me..
Komentar oleh xatryajedi — Januari 12, 2008 @ 9:33 am |
Ada kalanya modifikasi itu bagus. Tapi kita harus bijaksana dalam mengatakan modifikasi itu akan menghasilkan nilai lebih bagus atau kesia-siaan. Setahu saya, melakukan ibadah dengan modifikasi itu berarti mengubah kesempurnaan ibadah iu sendiri. Tapi saya bukan orang yang berhak berucap seperti ini tadi. Jadi bisa dilupakan. Namun baiknya bila kita kaji lebih dalam dengan orang yang ahli. Jika ini berhasil, maka akan menjadi tips menarik bagi umat Islam.
Komentar oleh Nugraha Hardika — Maret 2, 2008 @ 9:11 am |
Assalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuhu
Saudaraku…meraih keajaiban shalat memang hanya bisa dilakukan oleh siapapun yang khusyuk dan salah satu caranya dengan menghunjamkan bahasa syariat shalat menjadi bahasa kalbu yang mengalir dalam, meresap dan menggetarkan.
Puitisasi yang bagus dan memberikan inspirasi bagi saya…jadi teringat nih sama puitisasi ayat – ayat Al Qur’an karya fenomenal Mohamammad Diponegoro.
Maju terus dalam berkarya dan berjuang saudaraku
Wassalamu’alaikum warahmatulahi wabarakatuhu
Komentar oleh Badrut Tamam Gaffas — Maret 6, 2008 @ 10:49 am |