L a m a r a n
Salam, Rahmat dan Keberkahan-Nya atasmu.
Upik, aku mencintaimu.
Udin jatuh cinta pada Upik seperti sebatang rumput kering-kerontang yang mengejar-ngejar setetes air. Huh, salah, tauk! Cinta, kata orang-orang, adalah hasrat untuk memberi, berbagi, dan berkasih-sayang. Bukan keinginan primitif untuk menghisap, memetik, atau merenggut sesuatu.
Ya kalo gitu berarti saya memang mencintaimu.
Tapi kata para guru ngaji, cinta bisa halal namun bisa juga terlarang. Maka doaku adalah agar kerinduan ini menjadi halal. Agar tiap kebersamaan kita ( k i t a ? ) menjadi halal.
Kebersamaan kita (?) kemaren-kemaren itu (di ps rebo, di jalan-jalan, di kantin, di rumah) mudah-mudahan masih termasuk kategori halal karena darurat.
Dalam situasi yang ngga darurat sih mustinya saya hanya boleh menatap mata indahmu, bibir seksimu, menikmati candaanmu, menghapus airmatamu, memelukmu – hanya bila saya sudah menjadi suamimu. Jadi, saya ingin, sangat ingin, menikahimu. Please.
Masalahnya, pertama, pernikahan dalam masyarakat kita biasanya begitu ribet dan mahal. Padahal Rasulullah SAW berkali-kali mengatakan, “Mudahkanlah pernikahan, dan persulit perceraian.”
Dalam hadis lain beliau mengatakan, “Sebaik-baik mahar adalah yang murah.” Maksudnya tentu bukan untuk merendahkan martabat wanita selaku pihak yang menerima mahar. Melainkan agar sebuah pernikahan tak tertunda, apalagi sampai gagal, hanya gara-gara mahalnya mahar.
Dalam kaidah Islam yang asli, hanya ada empat syarat pernikahan: 1. Ada wali, 2. ada dua saksi, 3. ada ijab-kabul, dan 4. ada mahar. Selebihnya adalah bid’ah.
Disunahkan untuk mengadakan resepsi, dengan catatan bahwa yang harus diutamakan adalah mengajak makan fakir-miskin dan anak yatim. Bukan tamu yang amplopnya tebel.
Sangat sederhana dan mudah, bukan? Aturan Islam memang ditujukan untuk memudahkan kehidupan manusia secara permanen, bukan untuk mempersulit.
Tampaknya tradisi pernikahan yang kita alami dan saksikan selama ini memang menyimpang cukup jauh. Acara resepsi yang kita jalani selama ini nggak matching banget dengan pernikahan yang islami.
Ehh, . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Jauh banget ya ngaconya. Jelas, saya tuh terlalu ge-er bgt. Mana mao Upik ama saya? Lelaki tua yang jelek, lemah, goblog, gak punya apa-apa, bahkan ngga punya duwit barang sepeser. Jangan-jangan, kalo pun lamarannya diterima karena kasian, terus buat maskawin aja musti ngutang-ngutang. Jangan2 si Udin cuman mao numpang idup!
Shh! Saya tambah bingung sndiri jdnya. Sebab kondisi saya yang sebenarnya memang cukup mengerikan. Bahkan, secara finansial sangat parah. Saya nggak pernah punya penghasilan secara reguler sebagaimana laiknya orang-orang lain. Jadi, saya cuma hidup dari penghasilan yang tidak tetap – dan jumlahnya … kadang kurang besar, kadang terlalu kecil.
( Kok brani-branian mao nglamar Upik!
Abis, gw naksir berat sih. Jadinya nekat. Meski bisanya cuman berdoa dan meminta kepada Manager Semesta Alam. Mudah-mudahan Dia berkenan memberiku penghasilan 30 jt perbulan, saya pengen ngasih semuanya buat Upik-Ku!
Ngimpi kok kebangetan )
Siapa bilang kebangetan? Udin punya sekurang-kurangnya dua alasan mengapa Dia akan ngasih saya penghasilan segitu. Pertama, bagi Allah, buat ngadain duit semilyar – dua milyar sih keciiill! Bahkan, Nabi Zakariya yang udah tua banget dan isterinya mandul diberi anak karena beliau berdoa minta anak.
Kedua, kalo saya udah jadian ama Upik, nah dia itu kan doanya manjur. Jadi, Allah pasti ngasih. Entah dari mana dan begimana jalannya. Buat Allah sih gak ada soal yang susah.
Tinggal sekarang masalahnya yang utama : Apa iya wanita sehebat Upik sudi bersuamikan saya?
Jakarta 10 Juni 08
Udin 4 Upik
|
surat kedua
|
Within the name of Allah
The Beneficient, the Merciful
Salam, Rahmat dan Keberkahan-Nya atasmu.
Ternyata begitu banyak perkembangan dan perubahan besar terjadi dalam hidup saya selama beberapa pekan ini. Yang menghalangi saya menyampaikan surat pertama.
Tapi entah mengapa hati saya ngga ikut berubah. Dalam segenap doa, saya masih selalu minta Upik. Bedanya, saat ini saya terpenjara. Sebagaimana Zulaykha terpenjara di rumahnya.
Saya jadi teringat sebuah kisah yang sangat satire di dalam Al Quran. Tentang asmara- dahana yang melanda Zulaykha dan Nabi Yusuf. Konon, akhirnya Yusuf menikahi Zulaykha. Di saat wanita itu telah tua-renta. Barangkali inilah salah-satu cara Allah menuturkan sebuah kisah indah tanpa harus berdusta.
Dalam keadaan sebenarnya di dunia hari ini, jiwa cerita itu diulang dan diulang lagi. Dengan orang-orang yang berbeda. Dan latar situasi serta detail yang berbeda. Yusufnya bisa lelaki atau perempuan. Juga, peran Zaulaykha-nya bisa-jadi dilakoni seorang lelaki: kecoak comberan yang menulis gombal nggak bermutu ini.
My Queen Upik, saya tau bahwa saya ngga punya alasan untuk mendapatkan wanita sehebat Upik. Dan sang ratu bakal sengsara bila mendapatkan seorang pelayan konyol kayak saya.
Tapi saya ingin mengakui satu hal. Hampir delapan belas tahun saya menikahi seseorang. Dan sampai hari ini saya masih saja nggak ngerti aspek psikologis kaum perempuan.
Selama bertahun-tahun, saban hari saya disiksa dengan caci-maki, penghinaan, diusir, termasuk ratusan kali tantangan untuk bercerai. Saya menahan diri karena saya ingin menjadi seorang suami yang baik – sebagaimana Nabi Muhammad SAW adalah seorang suami yang baik. Hanya saja, sempat terlintas sebuah doa dalam hati.
Samar-samar, saya berdoa bahwa isteri saya akan menangis di bawah telapak kaki saya. Tiba-tiba saya merasa bahwa itu adalah sebuah doa yang jahat. Jadi saya putuskan untuk melupakan doa seperti itu.
Setelah sekian lama, kita ketemu. Sungguh, ini adalah rangkaian keajaiban. Sungguh ajaib bahwa setelah sekian puluh tahun, saya menerima telfon dari seorang yang dulu begitu saya cintai. Sungguh ajaib bahwa setelah sekian puluh tahun Upik tak kehilangan pesonanya.
Tapi masih ada yang lebih ajaib. Doa jahat saya ternyata dikabulkan. Meski kejadiannya ngga sengaja. Saya menelpon Upik. Ternyata isteri saya sangat marah.
Betul-betul di luar dugaan saya. Mengapa seorang wanita yang sudah berkali-kali mengusir, menantang, dan menghina saya tiba-tiba berbalik ingin mempertahankan saya? Tiba2 dia jadi baik. Sampai hari ini saya belum ngerti juga.
Tapi sungguh ngeri rasanya. Mendengar dan melihat langsung wanita itu menangis histeris, dan dalam tangisnya memanggil ibunya.
Saya mengira bahwa pertemuan dengan Upik di bulan Juni 2008 adalah hadiah Tuhan kepada saya. Atau bukan? Saya tidak tau. Saya confused dan putus-asa. Saya menginginkan Upik. Tidak ada lagi keinginan saya selain dirimu.
Ya Allah, berilah saya Upik – sebagaimana Paduka memberikan kepada Zulaykha seorang Yusuf.
Udin 4 Upik
Jakarta 24 Juni 08
