<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>jedi &#187; artikel</title>
	<atom:link href="http://xatryajedi.wordpress.com/category/artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://xatryajedi.wordpress.com</link>
	<description>Just a nickname of xatryaJedi</description>
	<lastBuildDate>Sat, 05 Jul 2008 16:32:11 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='xatryajedi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/4d015af53fee8930e66d1a458922eed1?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>jedi &#187; artikel</title>
		<link>http://xatryajedi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://xatryajedi.wordpress.com/osd.xml" title="jedi" />
		<item>
		<title>rating palsu</title>
		<link>http://xatryajedi.wordpress.com/2007/11/13/rating-palsu/</link>
		<comments>http://xatryajedi.wordpress.com/2007/11/13/rating-palsu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Nov 2007 13:02:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>xatryajedi</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[diskursus]]></category>
		<category><![CDATA[selebaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://xatryajedi.wordpress.com/2007/11/13/rating-palsu/</guid>
		<description><![CDATA[!&#8211; 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	&#8211;&#62;

sumber: Steven Sterk 
 	 	 	 	 	 	 	 	
Saya termotivasi melihat begitu banyaknya pekerja televisi yang sangat gigih dalam pekerjaan mereka, namun mereka tidak mengetahui bahwa selama ini mereka tidak mengejar apapun melainkan hanya rating palsu. Saya menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=xatryajedi.wordpress.com&blog=919309&post=51&subd=xatryajedi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>!&#8211; 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	&#8211;&gt;</p>
<p style="text-indent:0.02cm;margin-bottom:0;" align="center"><a href="http://xatryajedi.files.wordpress.com/2007/11/sinetron_asyik_icon.jpg" title="sinetron_asyik_icon.jpg"><img src="http://xatryajedi.files.wordpress.com/2007/11/sinetron_asyik_icon.thumbnail.jpg" alt="sinetron_asyik_icon.jpg" /></a></p>
<p style="text-indent:0.02cm;margin-bottom:0;" align="left"><font color="#c90016"><font face="FreeSans, sans-serif"><font size="2">sumber: Steven Sterk </font></font></font></p>
<p><title></title> 	 	 	 	 	 	 	 	<!-- 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--></p>
<p style="text-indent:0.4cm;margin-bottom:0;"><font color="#c90016"><font face="FreeSans, sans-serif"><font size="2">Saya termotivasi melihat begitu banyaknya pekerja televisi yang sangat gigih dalam pekerjaan mereka, namun mereka tidak mengetahui bahwa selama ini mereka tidak mengejar apapun melainkan hanya rating palsu. Saya menjadi tidak tega melihat jahatnya skandal dan penipuan yang dilakukan orang- orang di dalam Nielsen Media Research Indonesia.</font></font></font><span id="more-51"></span></p>
<p style="text-indent:0.4cm;margin-bottom:0;"><title></title>   	 	 	 	 	 	 	 	 	<!-- 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--></p>
<p style="text-indent:0.4cm;margin-bottom:0;"><font color="#c90016"><font face="FreeSans, sans-serif"><font size="2">Ibarat hakim, rating adalah kata penentu kemenangan atau kekalahan dalam dunia pertelevisian di Indonesia. Hidup atau matinya sebuah program televisi sangat tergantung oleh angka rating yang bagus. </font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.4cm;margin-bottom:0;"><font color="#c90016"><font face="FreeSans, sans-serif"><font size="2">Kalau sebuah program televisi mendapat rating yang tinggi, maka dapat diasumsikan akan ada banyak pendapatan dari iklan yang akan masuk ke televisi tersebut. Namun sebaliknya bila rating sebuah program turun, televisi tersebut kehilangan pemasukan iklan. </font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.4cm;margin-bottom:0;"><font color="#c90016"><font face="FreeSans, sans-serif"><font size="2">Dengan demikian rating adalah Tuhan bagi para pekerja televisi. Mereka rela berjumpalitan kerja siang malam demi memperoleh angka rating tersebut. Di Indonesia, satu-satunya jasa penyedia rating adalah Nielsen Media Research. Perusahaan ini praktis menjadi tumpuan utama atau monopoli bagi semua stasiun televisi , biro iklan dan semua produsen pemasang iklan. </font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.4cm;margin-bottom:0;"><font color="#c90016"><font face="FreeSans, sans-serif"><font size="2">Selama 14 tahun terakhir ini Nielsen Media Research juga selalu berhasil menampik semua tudingan yang mempertanyakan keabsahan penelitiannya, maupun validitas data responden yang telah ditebarnya. Namun sebenarnya jaminan mutu internasional itu hanyalah lip servis semata. Kenyataannya sungguh jauh dari tampilan make up luarnya.</font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.4cm;margin-bottom:0;"><font color="#c90016"><font face="FreeSans, sans-serif"><font size="2">Yang pertama Nielsen Research Indonesia tidak memiliki tenaga handal profesional yang direkrut dari luar negeri demi menjaga kerahasiaan sistem mereka, seperti yang selalu diklaimnya. Nielsen Indonesia yang sekarang banyak ditangani oleh para pekerja Indonesia, yang sebagian besar dari mereka adalah fresh graduated, sebagian besar adalah lulusan statistik dan matematika. Sehingga kerahasiaan sistem mereka sebenarnya tidak benar- benar seperti benda suci yang selalu mereka jaga kerahasiaannya. </font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.4cm;margin-bottom:0;"><font color="#c90016"><font face="FreeSans, sans-serif"><font size="2">Mereka banyak merekrut tenaga dari dalam negeri dengan anggapan bahwa tenaga dari Indonesia jauh lebih murah dibanding mempekerjakan tenaga dari negara mereka yang sudah berpengalaman. Hampir setengah dari tenaga lapangan Nielsen Media Research adalah para mahasiswa yang belum lulus dengan hitungan tenaga magang. Sehingga dengan tujuan efisiensi pada sumber daya manusia, mereka dapat lebih banyak mendapat keuntungan.</font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.4cm;margin-bottom:0;"><font color="#c90016"><font face="FreeSans, sans-serif"><font size="2">Kedua, dengan banyak merekrut tenaga kerja baru lulus kuliah dan mahasiswa magang, Nielsen Indonesia banyak memberikan toleransi kesalahan data. Terutama data- data di lapangan. Sering sekali saya alami penyimpangan data terjadi hanya karena keteledoran SDM semata-mata. </font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.4cm;margin-bottom:0;"><font color="#c90016"><font face="FreeSans, sans-serif"><font size="2">Ketiga, untuk pemilihan demografis, responden rating televisi cenderung dilakukan dengan asal–asalan. Dan tidak diusahakan pemerataan pada sebaran datanya Misalnya , untuk mengetahui berapa kecendrungan pemirsa untuk tayangan televisi A, mesti diambil jumlah responden yang seimbang misalnya untuk kelas ekonomi atas 33,3%, kelas ekonomi menengah 33,3 %, untuk kelas ekonomi bawah 33,3%, sehingga total 100%. Sehingga angka rating yg didapat adalah lebih obyektif. </font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.4cm;margin-bottom:0;"><font color="#c90016"><font face="FreeSans, sans-serif"><font size="2">Namun pada prakteknya , Nielsen Indonesia banyak mengambil data responden sebagian besar dari kelas ekonomi rendah. Profil mereka sebagian besar adalah : ekonomi kelas rendah, berpendidikan rendah, tidak mempunyai pekerjaan, bekerja sebagai pembantu rumah tangga, pedagang kaki lima, karyawan toko, buruh pabrik, dan lain- lain. Hal ini menjelaskan mengapa sebagian besar tayangan televisi nasional yang memiliki rating tinggi justru yang memiliki cita-rasa rendah dan apresiasi seni yang rendah. Seperti musik dangdut, tayangan gosip artis, tayangan mistik, film- film hantu, dan sinetron – sinetron picisan. </font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.4cm;margin-bottom:0;"><font color="#c90016"><font face="FreeSans, sans-serif"><font size="2">Tayangan–tayangan televisi yang justru bersifat mendidik dan mencerdaskan akan selalu mendapat nilai rating yang rendah dari Nielsen. Kebijakan ini diambil Nielsen karena ia tidak mau membayar uang imbalan untuk respondennya. Sehingga responden yang diambil adalah kebanyakan dari kaum ekonomi bawah agar bisa dibayar murah. </font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.4cm;margin-bottom:0;"><font color="#c90016"><font face="FreeSans, sans-serif"><font size="2">Keempat, pemilihan responden secara geografis juga dilakukan dengan tidak merata. Sebaran data yang diambilnya tidak pernah dilakukan dengan distribusi yang sama rata secara nasional, melainkan sekitar lebih dari 60% datanya hanya terkumpul dari Jakarta saja. </font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.4cm;margin-bottom:0;"><font color="#c90016"><font face="FreeSans, sans-serif"><font size="2">Kelima sebagai imbalan ( honor ), responden rating hanya mendapat souvernir senilai Rp 30,000 s/d Rp 50,000,- saja perbulannya. Sehingga responden cenderung ogah- ogahan menjaga integritasnya.</font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.4cm;margin-bottom:0;"><font color="#c90016"><font face="FreeSans, sans-serif"><font size="2">Keenam, idealnya sebuah keluarga atau sebuah rumah yang menjadi responden televisi menjadi reponden selama 6 bulan saja atau maksimal selama 1 tahun. Setelah itu Nielsen harus mencari responden baru. Secara statistik hal itu perlu dilakukan demi menjaga obyektifitas data. Agar, secara psikologis, </font></font></font><font color="#c90016"><font face="FreeSans, sans-serif"><font size="2"><em>mood </em></font></font></font><font color="#c90016"><font face="FreeSans, sans-serif"><font size="2">responden tidak mempengaruhi data selanjutnya. Namun pada kenyataannya, seorang responden kebanyakan bisa menjadi responden selama tujuh tahun lebih. Hal ini murni dikarenakan kemalasan manajemen Nielsen untuk melakukan pemeriksaan ke lapangan. </font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.4cm;margin-bottom:0;"><font color="#c90016"><font face="FreeSans, sans-serif"><font size="2">Ketujuh, para responden rating Nielsen sama sekali tidak mempunyai integritas. Beberapa oknum televisi beserta oknum Nielsen dapat memberikan “pesanan” kepada ratusan responden sekaligus agar “mematok“ program televisi tertentu, sehingga hitungan rating program tersebut menjadi tinggi. </font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.4cm;margin-bottom:0;"><font color="#c90016"><font face="FreeSans, sans-serif"><font size="2">Biasanya jumlah yang diajak adalah 100 s/d 700 orang dari total 3,500 responden. dengan 700 orang berarti program tersebut diharapkan sudah memegang rating 1/5 dari total rating. Biasanya tiap satu kali “mematok” (biasanya disebut</font></font></font><font color="#c90016"><font face="FreeSans, sans-serif"><font size="2"><em> “memanteng”), </em></font></font></font><font color="#c90016"><font face="FreeSans, sans-serif"><font size="2"> tiap responden meminta bayaran Rp 100,000,-. Sehingga dengan 700 orang x Rp 100,000,-, oknum pihak televisi tersebut hanya mengeluarkan uang Rp 70,000,000 saja per satu kali “manteng”. Dengan begitu angka rating dapat dimanipulasi dengan mengeluarkan biaya yang relatif murah. </font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.4cm;margin-bottom:0;"><font color="#c90016"><font face="FreeSans, sans-serif"><font size="2">Sebagai karyawan yang sudah 6 tahun bekerja di Nielsen Media Research, sudah banyak orang yang bertanya- tanya kepada saya mengenai bagaimana cara rating itu bekerja, atau adakah penyimpangan didalamnya. </font></font></font></p>
<p style="text-indent:0.4cm;margin-bottom:0;"><font color="#c90016"><font face="FreeSans, sans-serif"><font size="2">Saya termotivasi melihat begitu banyaknya pekerja televisi yang sangat gigih dalam pekerjaan mereka, namun mereka tidak mengetahui bahwa selama ini mereka tidak mengejar apapun melainkan hanya rating palsu. Saya menjadi tidak tega melihat jahatnya skandal dan penipuan yang dilakukan orang- orang di dalam Nielsen Media Research Indonesia. </font></font></font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/xatryajedi.wordpress.com/51/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/xatryajedi.wordpress.com/51/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/xatryajedi.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/xatryajedi.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/xatryajedi.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/xatryajedi.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/xatryajedi.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/xatryajedi.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/xatryajedi.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/xatryajedi.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/xatryajedi.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/xatryajedi.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=xatryajedi.wordpress.com&blog=919309&post=51&subd=xatryajedi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://xatryajedi.wordpress.com/2007/11/13/rating-palsu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/85a9b13965425332405fb8259e292070?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">xatryajedi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://xatryajedi.files.wordpress.com/2007/11/sinetron_asyik_icon.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sinetron_asyik_icon.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>