jedi

Februari 4, 2008

independensi pers Paman Gober

Diarsipkan di bawah: politik — xatryajedi @ 7:18 am
Tags:

wafatnya-paman-gober.jpg

Saat penyerahan award Federasi Teater Indonesia, di Teater Studio, TIM Jakarta, Rabu (9/1), sang Presiden BBM, Si Butet Yogya, membacakan sebuah cerpen.

“Kematian Paman Gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal: Apakah hari ini Paman Gober sudah mati. (lagi…)

Desember 8, 2007

Pudarnya Peran Negara

Diarsipkan di bawah: politik — xatryajedi @ 12:13 pm

friedman di Time

 

mengapa negara yang dicita-citakan itu sekarang kehilangan peranannya, mengambil sikap masabodoh, bahkan ikut menjerumuskan warganegara ke dalam aneka kesulitan?

Sejak tahun 1980-an, kehadiran negara dianggap bermasalah (I. Wibowo / www.prakarsa-rakyat.org).  Pendapat seperti ini umumnya ditiupkan para ekonom neoliberal. Kata mereka, banyak masalah berakar pada adanya negara. Milton Friedman, dalam tulisannya yang dibaca oleh setiap ekonom, mengatakan: “Ganti negara dengan pasar, dan semua orang akan bahagia.” (lagi…)

Agustus 20, 2007

Antara Mengetahui dan Melakukan

Diarsipkan di bawah: politik, ulasan — xatryajedi @ 1:03 pm

yunus-2.jpg

 

Peraih Nobel Perdamaian yang dikenal sebagai ’Bankir Orang Miskin’, Muhammad Yunus, menjadi dosen di Istana Negara, 07/08/07. “Mahasiswa”-nya adalah Presiden SBY, Wapres JK, dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu. Yunus hadir di Istana atas undangan khusus Presiden SBY. (lagi…)

Agustus 6, 2007

menjadi diri sendiri

Diarsipkan di bawah: politik — xatryajedi @ 12:03 pm

simwars.jpg

 

 

 

Inilah kesempatan belajar dari PKS: Sebuah partai besar yang diketahui berasal dari sebuah harakah besar Ikhwanul Muslimin. Di penghujung dasawarsa 1980-an, gerakan Ikhwanul Muslimin di Indonesia dikenali dari atribut jilbabnya yang sangat fenomenal itu. (lagi…)

Mei 16, 2007

could be worst

Diarsipkan di bawah: politik — xatryajedi @ 7:35 am

mel_069.jpg Ada sebuah paradigma baru pasca pencopotan Hamid Awaluddin, Abdul Rahman Saleh, dan Yusril Ihza Mahendra dari jabatan mereka sebagai pejabat tinggi negara.

Paradigma lamanya adalah Yusril dan Hamid disorot pers, antaralain karena keduanya menggunakan rekening departemen untuk menampung uang Tommy. Kasus pencairan uang Tommy itulah yang diduga menjadi alasan SBY mencopot keduanya. Sedangkan Arman, menurut Koordinator Tim Monitoring Hukum dan Peradilan Indonesia Corruption Watch (ICW) Emerson Yuntho, dicopot karena pekerjaannya banyak yang belum diselesaikan.

Paradigma barunya adalah, mungkinkah dugaan kejahatan kerah putih yang dilakukan Yusril-Hamid dan tak tuntasnya kerja Arman adalah prasangka tanpa dasar yang diperkuat oleh kesaksian, referensi, dan argumen palsu? (lagi…)

Blog pada WordPress.com.